Reproduksi dan Representasi Arsip Filem Dalam Pameran Kultursinema

lead image

Sejak 2014 hingga sekarang, Kultursinema melacak sejarah sinema Indonesia melalui arsip-arsip yang tersebar tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lainnya.

Bila kita membicaran arsip film, tentu ada cukup banyak bagian-bagian terkait yang berhubungan langsung dengan kultur filem tersebut. Selain materi filem itu sendiri, beberapa unsur-unsur yang terkait itu adalah poster filem, informasi penayangan filem di berbagai harian, pencatatan terhadap pengalaman menonton, hingga dokumentasi personal dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Arsip film dan kesemuanya ini memiliki signifikansinya sendiri untuk dihadirkan dalam sebuah pameran. Karena itu, Pameran Kultursinema yang merupakan salah satu program dari ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival berupaya dalam membingkai peradaban sinema dalam sebuah pameran.

Arsip Film Direproduksi dan Direpresentasikan Dalam Pameran Kultursinema

Sejak 2014 hingga sekarang, Kultursinema melacak sejarah sinema Indonesia melalui arsip-arsip yang tersebar tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lainnya. Kali ini Kultursinema menggelar pameran Keliling di beberapa tempat, yaitu pada 7-11 Maret 2019 di Orbital Dago, Bandung, pada 3-7 April 2019 di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, pada 24-28 April 2019 di C2O Library and Collective, Surabaya, dan pada 1-5 Mei 2019 di Komunitas Hysteria, Semarang.

Bertempat di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta selain pameran arsip film, gelaran ini juga menghadirkan diskusi, dan penayangan gratis dan terbuka untuk umum.

Menurut kurator pameran Kultursinema Mahardika Yudha, menggunaan arsip sebagai materi pameran sebenarnya sudahlah lazim digunakan pada pameran seni rupa atau seni lintas medium lainnya. Secara fungsional, arsip umum dipakai sebagai rujukan data faktual bahwa telah terjadi suatu peristiwa di rentang waktu tertentu. Informasi tersebut memberi penekanan kontekstual, sebagai salah satu fondasi dasar dari pernyataan yang ingin diutarakan kepada khayalak terhadap peristiwa yang ingin diangkat.

arsip film
Menurutnya, Kultursinema selalu berusaha memberikan penawaran lain terhadap penggunaan arsip dalam pameran. Penawaran ini berdiri pada anggapan bahwa arsip sebagai material faktual, perlu dikaji kembali dan dintrepertasikan ulang, baik bentuk maupun konteksnya, sesuai dengan kondisi mutakhir dan narasi yang diangkat.

Ada cukup banyak pertanyaan ketika arsip film sudah kami dapatkan, seperti: bila arsip tersebut berupa teks, siapa yang menuliskan teks itu, bila arsip itu berupa objek visual atau audio-visual, siapa yang melakukan perekaman, atas kepentingan objek tersebut diarsipkan, lembaga apa yang melakukan pengarsipan hingga apa saja proses yang dilalui oleh objek tersebut sebelum berakhir ke muara lembaga pengarsipan.

Di Indonesia sendiri, lembaga yang menyimpan arsip yang berhubungan dengan filem dan kultur yang melingkupinya adalah ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), Sinematek Indonesia dan Perpusnas (Perpustakaan Nasional). Lembaga-lembaga tersebut cukup banyak menyimpan arsip-arsip filem yang sejujurnya belum banyak dipamerkan dan dikaji lebih dalam.

Kultursinema berupaya menginterpretasi arsip dan memberi nilai artistik yang berbanding lurus dengan tema pameran yang coba diangkat. Sehingga saat penonton masuk ke dalam pameran, yang dialaminya bukan hanya sekedar melihat arsip mentah seperti melihatnya di lembaga arsip, tapi ada proses transformasi bentuk yang dilakukan oleh tim Kultursinema sehingga arsip itu memiliki penyataan artistik yang coba diangkat dalam pameran.

 

View this post on Instagram

 

[OPENS TODAY - KULTURSINEMA TRAVELLING EXHIBITION] - PAMERAN KELILING KULTURSINEMA Arsip merupakan rujukan data bahwa telah terjadi suatu peristiwa di rentang waktu tertentu. Untuk itu, ia dianggap faktual. Pengarsipan sendiri merupakan upaya mendefinisikan atau mengelompokan kejadian, situasi politik, bahkan status warga negara. Salah satu arsip yang memiliki banyak lapisan pengetahuan adalah sinema. Sebagai seni yang paling kompleks, sinema memiliki kemungkinan utk bisa didekonstruksi untuk berbagai kepentingan ilmu pengetahuan. Tidak hanya untuk pembacaan sejarah sinema, tetapi juga sejarah-sejarah sosial yang pernah ia bekukan. Dalam kesempatan Pameran Keliling Kultursinema, akan berlangsung juga Forum Kultursinema yang mencoba untuk melihat kemungkinan-kemungkinan di dalam memanfaatkan arsip filem; kerja kuratorial atau pemograman dalam membuat pemutaran atau penayangan filem, penulisan sejarah, dan upaya pengelolaan arsip untuk disajikan dengan bentuk kemungkinan lain, seperti pameran ataupun produk seni lainnya, berhubungan dengan konteks sosial, politik, budaya, dan ekonomi. —— [PAMERAN] Kedai Kebun Forum, Yogyakarta 3-7 April 2019 11.00 – 19.00 WIB —— [FORUM KULTURSINEMA] "Ruang Ruang Menonton dan Arsip Filem" 3 April 2019, 19.00-21.00 • "Penulisan Sejarah dari Arsip Filem" 5 April 2019, 19.00-21.00 • "Reproduksi dan Representasi Arsip Filem" 7 April 2019, 19.00-21.00 -- [PEMUTARAN FILEM] "Jagoan Lokal, Bandit Kolonial" 4 April 2019, 19.00-21.00 Matjan Berbisik (The Whispering Tiger), Tan Tjoei Hock, 1940, 60 menit — 6 April 2019, 19.00-21.00 Gagak Item (Black Crow), Joshua Wong dan Othniel Wong, 1939, 27 menit (film excerpt) • Serigala Item (The Black Wolf), Tan Tjoei Hock, 1941, 38 menit (dari 87 menit) —— Pameran, diskusi, dan penayangan gratis dan terbuka untuk umum —— ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival (@arkipel) bekerja sama dengan Kedai Kebun Forum (@kedaikebunforum) ——— #arkipel #filmexhibition #pameranfilm #kedaikebunforum #seni #pameran #film #art #exhibition #archive #arsip #yogyakarta #jogja

A post shared by ARKIPEL Film Festival (@arkipel) on

Pameran arsip seperti Kultursinema juga merupakan siasat untuk menyebarkan arsip-arsip tersebut ke publik. Beberapa arsip memang cukup sulit diakses oleh publik, terlebih arsip-arsip yang tidak berada di Indonesia.

Tiap arsip yang kami angkat di pameran melalui proses negosiasi dan pertimbangan bahwa informasi tersebut penting untuk dipamerkan, yang lalu kami harapkan bisa menjadi diskursus baru tentang sinema dan kesejarahannya di Indonesia.

"Tahun ini kami membuat pameran keliling di Jawa karena melihat Jawa adalah pusat perkembangan kultursinema di Indonesia. Selain itu konteks pameran keliling ini juga merujuk pada usaha sinema di masa awal yang mencoba mendekati audiens dengan membawa arsip itu ke ruang-ruang tempat publik bertemu".

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Kiki Pea