Tak Kenal Maka Taaruf

lead image

Taaruf adalah proses mengenal calon pasangan sebelum memutuskan untuk menikah atau tidak.

Taaruf yang makin sering kita dengar belakangan ini seara harfiah berarti 'perkenalan'. Tapi, kata taaruf cinta merujuk kepada proses pacaran sesuai syariat Islam dengan tujuan akhir adalah pernikahan.

Selain taaruf, kata lain yang akrab di telinga adalah khitbah yang berarti 'meminang' atau 'melamar'. Apa hubungan antara taaruf dan khitbah? Apa bedanya? Bagaimana menjalankan taaruf cinta yang sesuai ketentuan Islam?

Tata cara taaruf cinta

Islam memandang hubungan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan sebagai zina. Dengan perkawinan, proses mendapatkan keturunan menjadi halal.

Untuk sampai ke tahap pernikahan, antara laki-laki dan perempuan harus saling mengenal dan menyukai. Sebab, syarat pernikahan yang sakinah, mawadah, warahmah ialah adanya saling ketertarikan.

Ketika seorang laki-laki atau perempuan tertarik pada laki-laki atau perempuan lain, mereka disarankan untuk mengenali lebih dalam satu sama lain. Tujuannya, jika ada kekurangan secara fisik, tidak akan ada penyesalan di kemudian hari. Juga jika ada ketidakcocokan atau kecocokan di luar masalah fisik. Paling tidak sejumlah di antaranya sudah diketahui satu sama lain sebelum memutuskan menikah.

Menurut sunah Nabi Muhammad saw., laki-laki dan perempuan yang salah satu atau keduanya punya ketertarikan dan ingin menikah sebaiknya bertemu untuk mengenal satu sama lain. Inilah yang dinamakan taaruf cinta.

Saat bertemu, karena belum berstatus mahram, keduanya tidak boleh berduaan, melainkan harus ditemani oleh orang yang bisa mengawasi keduanya.

Tidak ada batasan kapan taaruf harus berlangsung. Bisa beberapa hari, bisa juga berbulan atau bertahun-tahun. Namun, ada ajaran agar proses taaruf tidak terlalu lama karena dikhawatirkan akan menimbulkan kebimbangan hati.

Mengapa kebimbangan hati harus dihindari? Menurut penjelasan Profesor Quraish Shihab, cinta harus diputuskan oleh hati, bukan akal. Jika hati sudah menyatakan keterarikan, akal bisa saja menerbitkan kebimbangan dengan menunjukkan bahwa calon pasangan punya kekurangan-kekurangan ini dan itu.

Yang hendak ditekankan ialah, setiap manusia memiliki kekurangan dan tidak ada manusia yang seratus persen cocok satu sama lain. Jika hati sudah teguh pada calon pasangan, kebimbangan yang disodorkan akal bisa dilawan.

Setelah taaruf cinta, ketika kedua calon pasangan yakin untuk menikah, maka pihak laki-laki atau pihak perempuan boleh meminang atau melakukan khitbah. Khitbah ini harus dinyatakan dan diketahui oleh yang dipinang, sehingga yang dipinang bisa menyatakan untuk menerima atau menolak.

Sebenarnya, untuk mencapai pernikahan, hanya dua ini yang harus dilakukan. Jika kedua belah pihak sudah sepakat, tinggal mengurus kapan ijab pernikahan dilangsungkan di depan penghulu.

Hukum menikah di dalam Islam

Apakah seseorang harus menikah dalam Islam, ada beberapa pandangan mengenai itu, dikutip dari muslim.or.id.

Dalam mahzab Zahiri, pernikahan itu wajib sehingga yang tidak melaukukannya akan berdosa. Dasar pendapat ini adalah Surah An-Nur ayat 32, yang mana kata "nikahkanlah" dipandang sebagai perintah (yang dengan demikian artinya wajib).

Dalam pandangan mahzab Syafi'i, menikah hukumnya mubah (boleh). Artinya, jika dilakukan, tidak mendapat pahala, jika tidak dilakukan pun tidak akan berdosa.

Sedangkan dalam mazhab Maliki, Hanafi, dan Hambali, menikah dipandang sebagai mustahab (sunah, kebiasaan), bukan wajib.

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Redaksi