CERITA CINTA: Cinta Justru Datang Saat Tak Ditunggu

lead image

Dari temen jadi demen.

Ini adalah kisah pertemuanku dengan pacarku saat ini. Aku bahagia dengannya sekarang, tetapi kalau ingat bagaimana kami bisa bersama, aku masih tidak percaya. Tapi, begitulah cara kerja cinta.

Sebagian mungkin karena campur tangan karma.

Belasan tahun lalu aku pernah bilang kepada diriku sendiri. Aku tidak suka pria berambut keriting. Aku tidak suka pria berkumis. Aku tidak suka pria gemuk. Aku tidak suka pria metroseksual.

Dan sekarang, pacarku itu, ia punya gabungan empat ciri fisik itu. Sialan, ini mah namanya kualat.

Kami berkenalan empat tahun lalu karena temannya adalah temanku. Suatu hari temanku mengajak bertemu dan dia ada di sana.

di sebuah kafe tenang di selatan Jakarta, dia menyalamiku malam itu dan menyebutkan namanya.

“Halo. Herry.”

Dia ganteng, tetapi terlalu gemuk dan terlalu necis. Maksudku, jeans ketatnya itu benar-benar mengganggu. Ya ampun, cowok kok pakai jeans ketat, dalam batin aku mulai menghakimi.

Terlepas dari fashionnya yang tidak aduhai, dia orang yang asyik diajak mengobrol sebenarnya. Wawasannya luas, dan ya, aku ini agak lemah di hadapan pria cerdas. Mudah bagiku untuk menyukainya dalam sekejap.

Menyukai sebagai teman tentu saja. Sebab, selera tetap selera: no keriting, no gemuk, no kumis, no metroseksual.

Rupanya, teman kami malam itu mengumpulkan kami untuk melakukan satu pekerjaan bersama. Temanku seorang programmer dan ia butuh penulis serta ilustrator untuk membuat video dokumenter. Maka, akulah yang ia minta menjadi ilustrator dan lelaki itu penulis naskahnya.

Gara-gara pekerjaan itu aku dan Herry jadi berada di grup WhatsApp yang sama. Sebelumnya, kami sudah saling follow di Facebook, Twitter, dan Instagram. Standar perkawanan zaman sekarang.

Pekerjaan itu kemudian selesai. Kami hanya sesekali saling komentar di Facebook dan tidak pernah bertemu lagi. Beberapa bulan kemudian aku tahu, ia pindah kota.

Dua tahun kemudian aku putus secara dramatis dari pacarku. Kami punya pandangan yang berbeda yang akibatnya, saat-saat bertemu kerap diisi perdebatan.

Misalnya, dia tidak suka dengan pekerjaanku sebagai ilustrator freelance yang tidak ada jam kerja. Dia juga benci karena aku merokok, padahal di awal dia baik-baik saja. Dia merasa hidupku kacau dan dia ingin merapikannya.

Singkat kata, pacarku ingin mengubahku sesuai standarnya. Aku tidak anti untuk diubah orang yang aku cinta, tetapi sampai batas-batas tertentu. Kalau pekerjaan sudah diatur-atur, jangankan pacar, kadang orang tua pun kita sanggah, bukan?

Jadi, demikianlah kami putus. Kami yang sudah berencana menikah. Putus baik-baik memang omong kosong. Aku mencintainya, jadi wajar jika hatiku hancur juga.

Kata orang, resep untuk segera move on adalah dengan mencari pengganti. Begitu aku putus, itulah yang aku lakukan untuk mengalihkan rasa sakit. Berkenalan dengan orang baru, memakai aplikasi dating, datang ke acara-acara.

Nyatanya, sampai aku lelah sendiri, aku tetap tidak bisa jatuh hati. Aku sempat jalan dengan beberapa lelaki, tetapi hatiku rasanya kosong. Tidak nyaman.

Akhirnya aku menyerah. Aku memutuskan untuk lebih banyak sendiri sampai aku “sehat” lagi.

Herry mengontakku lima bulan setelah aku putus. Dia mau datang ke kotaku dan mengajukan permintaan.

“Bisa temani aku nonton konser X di Y, tidak?”

Ya, mengapa tidak. Musik adalah hiburan buatku. Jadi aku mengiyakan.

Di hari ketika dia datang, aku menjemputnya sore itu di stasiun. Kami pergi makan, lalu menuju lokasi konser.

Kamu tahu betapa indahnya sensasi jatuh cinta? Itulah yang terjadi malam itu. Saat makan, saat nonton konser, saat makan lagi setelah konser, saat jalan-jalan keliling kota malam-malam dengan motor, saat nongkrong di trotoar, tahu-tahu kami berdua jadi sangat cerewet.

Mula-mula ia bercerita soal pekerjaannya. Lalu soal kehidupannya. Soal mantan pacarnya yang selingkuh. Soal orang tuanya. Soal adik-adiknya. Soal cita-citanya.

Pukul 2 pagi, kami ketakutan akan berpisah. Tentu saja itu tidak kami katakana, tetapi kami sama-sama tahu. Lalu ide gila muncul di kepalanya. Ia mengajak melihat matahari terbit di lereng gunung. Dua jam bermotor dari pusat kota.

Dini hari adalah ketika embun mulai turun dan suhu sedang rendah-rendahnya. Entah bagaimana ceritanya, setelah setengah perjalanan, aku sudah memeluknya.

Itu tepat setahun lalu. ketika di lereng gunung langit seperti memar dan napas kami beruap, ia bilang bahwa ia nyaman bersamaku hari itu.

“Yuk, kita coba pacaran.”

Aku tesenyum. Lalu memberi jawaban lewat sebuah ciuman.

Oh, ya. Dia masih gemuk, masih berkumis, masih keriting, tapi sudah tidak terlalu metroseksual. Jeans ketat itu sudah entah ke mana setelah aku protes keras. Aku sudah bilang kan, aku tidak masalah dengan “mengubah orang”. Sepanjang masih di batas-batas tertentu. Hehehe.

BACA JUGA: Cerita Cinta: 20 Tahun Mencintaimu Diam-Diam

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Redaksi