CERITA CINTA: 20 Tahun Mencintaimu Diam-Diam

lead image

Teruntuk cinta masa kecilku.

"Cerita Cinta" adalah rubrik untuk kisah cinta nyata yang dituliskan ulang oleh Redaksi. Edisi pertama ini berkisah tentang pengalaman mencintai diam-diam selama 20 tahun yang berakhir tragis.

Siapa bilang anak-anak tidak bisa jatuh cinta? Aku jatuh cinta kepadanya saat umur kami belum lagi sampai di angka 10 dan waktu membuktikan, ini cinta diam-diam yang serius.

Di usiaku yang baru saja lewat kepala tiga, aku masih bisa ingat dengan segar bagaimana aku jatuh cinta kepadanya.

Kami teman sekelas dan rumah kami berdekatan. Setiap pagi ia pergi dan pulang sekolah melewati rumahku. Kami tidak perlu janjian berangkat bersama, dia sadar sendiri untuk singgah di rumahku setiap berangkat sekolah.

Di kelas 3 SD, saat usia kami 9  tahun, apa yang kubayangkan soal cinta adalah aku suka dia. Itu saja. Tidak ada imajinasi bahwa cinta itu artinya aku harus menggandeng tangannya. Aku hanya suka memandanginya, berdekatan dengannya, ngobrol dengannya.

Bola matanya cokelat. Rambutnya selalu diminyaki dan disisir ke belakang semua. Ia berjalan dengan tangan di belakang, saling bertaut di bawah tas gendongnya. Tungkai kaki di bawah celana pendek merahnya begitu panjang. Oh ya, di mataku di bukan cuma tampan, dia juga sangat jago olahraga.

Kami berangkat sekolah selalu berempat. Dia akan melalui rumah satu teman laki-laki lain, juga teman sekelas, lalu mereka mampir di rumahku, terakhir, kami mampir di rumah satu teman perempuan. Kami berempat, berjalan bersama pulang pergi sekolah yang jaraknya 5 kilometer sejak kelas 1 SD hingga lulus.

Di kelas, kami duduk depan belakang. Aku dengan temanku di bangku deretan kedua, dia dan satu teman di belakang kami.

Di hari ketika aku jatuh cinta dengannya, dia memanggilku. Meminjam penghapus. Aku sedang menulis saat itu, lalu meraih penghapus di kota pensil kemudian membalikkan tubuh menghadap belakang. Di belakangku, dia tersenyum sambil menerima penghapus itu.

Aku tahu, dia hanya meminjam penghapus. Tapi, senyumnya hari itu membuatku sadar bahwa ia punya gigi yang rapi dan bola mata yang cokelat. Tahu-tahu saja dadaku berdesir. Setidak-dramatis itu prosesku untuk mulai mencintainya. Cinta diam-diam karena aku terlalu malu untuk bilang. Semua terjadi begitu singkat, hanya sepersekian menit, jika dibandingkan dengan puluhan tahun lamanya perasaan itu tertinggal di dada.

Di masa sekolah dasar, lelaki ini menjadi teman sekelas pertama kami yang berpacaran. Pacarnya gadis sekelas. Jika sejak awal aku sudah tak berani untuk menyatakan bahwa aku menyukainya, kini aku semakin tidak berani lagi.

Kelak, mereka akan berpacaran sampai lulus SMA. Legenda di angkatan kami.

Aku menyukainya diam-diam sampai kami lulus SD. Setelah pelepasan di sekolah, aku pindah kota, dia juga melanjutkan SMP di kota lain. Karena di masa itu komunikasi yang umum hanya lewat surat, aku tidak tahu kabarnya lagi.

Ketika SMA, ponsel semakin murah dan semakin umum bagi siswa SMA memiliki ponselnya sendiri. Aku mulai menjalin kontak lagi dengan teman-teman SD-ku, ikatan kami sangat erat karena kami sekelas sejak masuk sampai lulus SD. Dari beberapa teman dekat, aku mencari-cari kabarnya. Tapi, ta ada teman-teman yang tahu.

Masa kuliah akhirnya datang. Di Jogja, tempatku memilih kuliah, aku bertemu kembali dengan beberapa teman SD-ku. Di saat yang sama, Facebook mulai populer di Indonesia. Berkat Facebook-lah perkawanan yang tercerai berai oleh geografi kembali tersambung. Tapi, aku tak bisa menemukannya….

Aku akhirnya menceritakan cinta diam-diam ini kepada salah seorang teman SD kami yang kujumpai lagi di Yogya. Dia tertawa mendengarnya. Aku merasa malu sekaligus lega. Saat itu, aku sudah punya pacar.

Suatu hari ketika kami duduk di semester 6 kuliah, temanku mengirim SMS kepadaku.

“Ada kabar gembira?”

“Apa?”

“Aku menemukan akun Facebook-nya.”

Aku mencintai pacarku yang sekarang. Sangat. Tetapi, sulit untuk tidak bahagia saat mendengar kabar ini.

Dia kuliah di kota yang berjarak 300 kilometer dari Jogja. Tanpa babibu, sepulang kuliah aku berangkat ke warung internet dan mencari namanya di Facebook. Ketemu!

Ia menunjukkan ekspresi senang saat aku mengontaknya pertama kali. Kami bercerita ini itu, mengulang nostalgia masa sekolah, dan saling berkisah kabar masa kini. Ia bilang, ia ingin datang ke Jogja kapan-kapan.

Aku senang bisa terhubung lagi dengannya. Ah, cinta lama, biarlah itu berlalu. Cinta masa kanak-kanak. Berkumpul dengan sahabat masa kecil sudah menggembirakan.

Setahun kemudian ia benar datang ke Jogja. Naik motor. Bersama pacarnya. Aku nyaris tanpa ekspresi, tidak cemburu, tidak marah, ketika dia menghubungiku untuk membantu mencari penginapan. Aku membantunya sampai mendapatkan penginapan. Tetapi, dalam hati aku merasa tidak perlu bertemu mereka lama-lama.

Saat kisah-dimintai-tolong-mencari-penginapan-untuk-cowok-yang-sudah-kutaksir-belasan-tahun itu aku sampaikan kepada temanku yang tahu perasaanku, dia ngakak setengah mati. Sialan!

Setengah tahun kemudian aku yang gantian datang ke kotanya. Kali ini dalam rangka pelesir sendirian untuk mengobati patah hati. Aku baru putus dan perasaanku sedang sangat kacau.

Aku mengontaknya untuk menjemput di stasiun. Ia datang dengan motor laki-laki, lalu mengajakku sarapan di dekat kampusnya. Setelah tahu aku tak ada teman lain di kota itu, ia menawariku menginap di kosnya.

Bersambung ke 20 Tahun Mencintaimu Diam-Diam Bagian 2

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Redaksi