CERITA CINTA: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

lead image

Teruntuk cinta masa kecilku.

"Cerita Cinta" adalah rubrik untuk kisah cinta nyata yang dituliskan ulang oleh Redaksi. Edisi pertama ini berkisah tentang pengalaman mencintai diam-diam selama 20 tahun yang berakhir tragis.

Sementara teman-teman kami ribut saling berebut bercerita, aku mecolek lengannya, memberi kode untuk geser ke teras.

“Ada apa?” katanya saat sampai di teras. Kami cuma berdua di sana.

Aku diam, lalu malah tertawa. Goblok, di usia pertengahan 20-an begini, aku masih kayak orang bodoh saat ingin menyatakan cinta.

Setelah berhasil menenangkan diri, aku mulai membuka mulut.

“Hehehehe.”

Ya, ampun, aku malah ketawa lagi.

Dia ketawa juga melihat orang bodoh di depannya. Kemudian ia tanya lagi, “Kamu kenapa sih?”

“Oke, aku mau jujur.” Akhirnya aku bisa ngomong.

“Waduh, kalau dimulai dengan ‘aku mau jujur’, ini pasti sesuatu yang serius.”

“Hehehehe.” Dan aku ketawa lagi. Seperti simpanse di film Amerika.

***

“Kamu tahu nggak sih aku pernah suka kamu?” Aku sengaja memasukkan kata “pernah” atas nama gengsi.

“Hmmm. Tahu,” katanya sambil mengerling nakal.

“Hah? Kok bisa?”

“Semua orang juga tahu.”

“HAH!”

“Hahaha. Bercanda. Aku tahu ketika kamu mau nginap di kosku. Kalau kamu tanya kenapa tahu, itu karena si A ngasih tahu aku. Dia inbox aku saat kamu mau datang ke kotaku.”

Si A ini adalah satu-satunya temanku yang kuberi tahu soal perasaan rahasia ini. Dalam hati aku berjanji akan menghajarnya setelah ini.

“Dia bilang apa saja?” Aku langsung memberondongnya.

“Hahaha, intinya ya itu. Terus, kamu mau jujur apa lagi?”

“Ya, sudah, cuma itu.”

“Apaan sih. Sekarang aku yang gantian tanya. Kamu sudah suka sejak kapan?”

“Sejak SD.”

“Kalau ini aku baru tahu….”

“Oh, jadi info dari si A nggak lengkap. Bagus.”

“Kok bagus? Terus, kenapa suka?”

“Karena khilaf,” jawabku sambil tersenyum, sengaja mempermainkannya. Ia pura-pura mau melemparku dengan gelas.

“Serius dong,” katanya.

“Kenapa, ya? Tahu-tahu suka aja. Kamu ingat waktu kelas 4 aku bikinin kamu tugas menggambar? Waktu itu aku sudah suka kamu.”

“Aku nggak ingat, hahaha.”

“Iyalah, waktu itu kamu asyik pacaran dengan teman sekelas.”

Ia diam.

“Terus, kalau sekarang, masih suka nggak?” ia bertanya setelah bicara lagi.

Aku diam sejenak. Menimbang-nimbang jawaban terbaik. Ah, sudah kepalang basah, jujur sekalian saja.

“Masih….”

Dia kembali terdiam. Aku juga diam, bingung mau ngomong apa lagi. Rasanya waktu itu kami diam-diaman selama 10  tahun. Melihat responsnya, aku yakin dia tidak marah dengan kenyataan bahwa aku menaksir dia selama 20 tahun. Jadi, aku tidak tahu penyebab dia terdiam begitu. Wajahnya tampak sedih.

“Kamu kenapa?” aku bertanya.

“Aku juga mau jujur. Kamu ingat saat kamu datang ke kosku dulu itu?”

“Iya….” TENTU SAJA AKU INGAT, kataku dalam hati.

“Saat itu aku mulai naksir kamu.”

Ya Tuhan.

“Dan sekarang, aku juga masih suka sama kamu,” lanjutnya. “Tapi situasinya sulit. Aku di sini, kamu di Jogja. Aku punya kehidupan sendiri dan kamu juga. Waktu itu aku tidak berani bilang ke kamu, sekarang juga tidak berani mengajak kamu lebih jauh.”

“Kenapa?”

“Aku sudah punya pacar.”

“Kan bisa putus?”

“Bulan lalu aku melamarnya. April besok kami akan menikah.”

Aku pernah mengalami macam-macam kesedihan dalam hidup ini. Sedih ditinggal mati. Sedih nilai pelajaran jelek. Sedih melihat teman lebih berprestasi. Sedih diputus pacar. Sedih saat nonton video binatang. Sedih habis nonton film sedih. Tapi, sedih yang seperti ini apa namanya? Baru kali ini kurasakan.

Malam itu aku sedih sekali, tapi tidak bisa marah. Cuma terenyuh, lalu menyalahkan diri sendiri. Kalau saja aku jujur lebih cepat, mungkin April besok akulah yang akan dia nikahi. Kalau saja malam ini aku tidak memutuskan untuk jujur, saat dia menikah nanti, aku tidak akan sedih karena aku tidak tahu bahwa perasaanku 20 tahun terakhir ini berbalas. Kalau saja….

Tidak, aku tidak ingin cerita cinta pertamaku ditutup dengan kata "kalau" yang tak terhingga. Jika sudah telanjur seperti ini, aku akan menentukan akhir cerita cinta ini sebaik-baiknya yang kubisa.

“Hei,” aku mengguncang bahunya, “kamu bisa bikin tato, kan?”

“Bisa.”

“Punya alatnya?”

“Iya.”

“Aku sudah lama ingin bikin tato, tapi takut sakit. Malam ini bikinkan aku tato satu. Kecil aja. Buat kenang-kenangan.”

Ia melongo mendengar permintaanku. Bola matanya membesar. Warnanya cokelat.

Artikel ini adalah seri ketiga dari edisi pertama Cerita Cinta berjudul "20 Tahun Mencintaimu Diam-Diam". Klik ini untuk membaca seri pertama dan di sini untuk seri kedua.

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Redaksi