Pengemudi Ojek Online Ini Kerap Tur Eropa Bersama Band Eksperimentalnya

Pengemudi Ojek Online Ini Kerap Tur Eropa Bersama Band Eksperimentalnya

Meski kerap melakukan konser keliling Eropa, Dimex bertahan sebagai driver ojek online.

Setiap musisi memiliki alasan tersendiri mengapa mereka tetap bermain musik. Ada yang menjadikannya sebagai mata pencaharian, menghidupi passion, atau sekadar menjalani takdir, dan sebagainya. Dimex adalah musisi asal Jogja yang juga mewarnai cerita ojek online.
Sehari-harinya pria bernama lengkap Dimas Budi Satya ini bekerja sebagai pengemudi ojek online, namun sebagai penabuh drum di sebuah kelompok musik eksperimental, kiprahnya di blantika musik tidak bisa dipandang sebelah mata.

Cerita Ojek Online, Keluarga, Hingga Bermusik Keliling Eropa

Bersama Zoo, sebuah band eksperimental asal Jogja, Dimex telah bolak-balik tur keliling Eropa. Bahkan belum lama ini, mereka tampil di CTM Festival di Jerman. Simak wawancara dengan Dimex tentang cerita ojek online sebagai aktivitas keseharian, dan kegiatan bermusiknya.

Point pentingnya adalah, semua ia lakukan untuk keluarga, istri dan anak-anaknya tercinta.

HSA: Halo bro, ceritain dong soal Tur Eropa kemarin, Zoo maen dimana aja?
Dimex: Kalau yang sekarang ini cuma maen di satu Festival aja. CTM Festival, di Berlin, Jerman.
HSA: Sebagai personel yang berada di balik perangkat drum, apa sih konsep Zoo menurut kamu?
Dimex: Sebenernya Zoo itu seperti sebuah misi, dongeng fiksi melalui perantara musik sebagai medianya, dan ‘Peradaban’ yang diangkat sebagai misi dongengnya. Jika kisah Peradaban itu sudah selesai, Zoo juga ikut selesai. Mungkin seperti kisah kiamat, semua selesai karena sudah nggak ada lagi yang akan Zoo kisahkan untuk karya selanjutnya. Tapi Zoo tetap ada seperti kisah di akhirat!
HSA: Ide-ide yang ditawarkan Zoo dalam berkarya biasanya muncul darimana?
Dimex: Awalnya bareng-bareng, namun setelah album ‘Prasasti’ (2012), Rully (Shabara, red) lebih dominan soal ide dan konsepnya. Biasanya (dalam berkarya, red) diawali dengan pembuatan aksara baru yang dinamai ‘Zugrafi’ dan disempurnakan di album ‘Khawagaka’ dengan membuat bahasa baru yang dinamai ‘Zufrasi’. Semua bisa dilihat di web Zoo www.khawagaka.com

Cerita Ojek Online, Bermusik Hingga Keliling Eropa

HSA: Dari pengalamanmu, apa perbedaan secara signifikan manggung di Eropa dengan di dalam negeri?

Dimex: Nah ini yang susah ngejawabnya hehee..Sebenernya sama aja sih, selalu asik dimana aja selama itu masih bermusik. Hanya bedanya, mohon maaf sebelumnya, kalau di Eropa mereka sangat serius banget di sound, saya belum pernah menemukan sound yang nggak cetar di sana, bahkan di bekas kandang sapi di pedesaan Belgia pun soundnya oke banget.

Nah kalau di sini mungkin lebih mementingkan panggung yang matching dengan penampilan oke seperti cowok macho memakai tuxedo, tapi soal sound yang justru jadi hal terpenting untuk musisi, malah dibikin ngirit alakadarnya.

Kalau soal penonton, di Eropa itu lebih antusias, mereka seperti selalu mencari hal baru yang berbeda. Kalau di sini penontonnya lebih mengikuti trend, apa yang baru nge-hits di televisi atau di instagram. Wuah, kalau lanjut soal ini panjang banget nih hehee..

HSA: Ngomong-ngomong, sepanjang karir bermusik, negara apa aja yang sudah kamu jajaki?
DimexTur luar negeri pertamaku tahun 2011, di Malaysia dan Singapura. Lanjut lagi tahun 2017 lalu keliling beberapa negara Eropa, mulai dari; Perancis, Swiss, Belgia, dan Belanda. Kami sempat tampil di Sonic Protest Festival di Prancis dan Sotu Festival di Belanda. Tahun 2018 kemarin, kami juga menjajal panggung-panggung di Polandia, Jerman, Denmark, dan Swedia. Yang paling saya ingat, ya waktu di Clandestino Festival di Swedia.
kisah ojek online

instagram.com/dimasbudisatya

HSA: Selain Zoo, ada project musik lainnya? 
Dimex: Saat ini cuma Zoo dan Sungai. Kalau proyek musik pasti tetap ada, ratusan ide pun sudah mengendap di otak. Tapi ya, apa artinya ide-ide gila tanpa adanya dana? Yang ada cuma tetap jadi endapan otak dan macet! hahaha

Cerita Ojek Online, Drum Sebagai Penyemangat

HSA: Kenapa kamu pilih main drum dan perkusi, ngomong-ngomong sempat belajar musik secara formal gak sih? 
Dimex: Aku main musik sejak kelas 2 SMP, dan nggak pernah memilih untuk memainkan drum. Cuma waktu itu hanya Kucing, Hipnoril, dan Drum yang saya temukan sebagai teman penyemangat, dan drum menjadi tempat meluapkan emosi.
Pernah satu kali nyoba belajar (musik secara formal, red) di daerah Jakal (Jalan Kaliurang, Yogyakarta, red). Baru dua kali pertemuan saya keluar. Alasannya karena saya bertanya pada guru soal ketukan dan dia cuma menjawab “Belum waktunya”. Itu yang bikin saya malas belajar drum secara formal, walaupun teori itu penting juga.
Saya pun lanjut belajar sendiri dengan banyak mendengarkan segala bentuk musik dari kaset pita dan melihat dari VCD. Jadi ya mungkin bedanya kalau otodidak lebih bebas sedangkan yang formal lebih kepatok kepada not, partitur.
kisah ojek online

instagram.com/dimasbudisatya

Cerita Ojek Online, Drummer Eksperimental Yang Sayang Keluarga

HSA: Bagaimana support dari keluargamu?
Dimex: Saya bersyukur diberikan istri yang baik, cantik, dan masakannya selalu enak. Saya juga sangat bersyukur diberikan seorang anak laki-laki yang lucu, tampan, pinter yang sekarang sudah berumur 3 tahun, ditambah 2 anak lagi, bonus bawaan dari istri. Selain mengurus anak dan rumah, kadang-kadang istri saya juga main musik, ‘Throughout’ nama bandnya. 
kisah ojek online

instagram.com/dimasbudisatya

Cerita Ojek Online, Awalnya Mau Jadi Astronot

HSA: Kamu mulai ngojek dari kapan, ceritain dong asik dan nggak asiknya ngojek?
Dimex: Selain bermusik, pastinya harus kerja dong ya, saya kerja sebagai tukang ojek online untuk mencukupi keluarga sehari-hari. Kalau ditanya kenapa memilih ngojek? Sama seperti drum, saya nggak pernah memilih untuk menjadi ojol, tapi ya cuma itu yang bisa saya lakukan untuk mencukupi keluarga.
Kalau bisa milih, saya pilih jadi astronot yang takut naik pesawat hehehe.. dulu waktu kecil saya pernah punya impian pengen ke planet Pluto.
Asik nggaknya jadi ojol? Asiknya ya pasti saya bisa sangat bebas bermain musik dan lebih banyak mengenal karakter orang-orang. Nggak asiknya, sering tombok kalau ketemu kostumer yang agak ‘nyebai’, dan sering kena marah kostumer pemesan ojol. Tapi secara nggak langsung semua itu juga melatih kesabaran dan kesopanan saya.
kisah ojek online

instagram.com/dimasbudisatya

HSA: Apa rencana kamu ke depannya, tentang karir, musik, dan keluarga?
Dimex: Terus bisa bermusik itu pasti. Karir? biarin aja ngalir sendiri, yang penting tetep bisa berkarya. Kalau keluarga? Simpel, kecukupan, sederhana, mendidik anak dengan baik. Pokoknya nggak muluk-muluk. Dapatkan kebahagiaan yang berlimpah sebelum mati!
Nantikan terus artikel kami tentang profil musisi dan kesehariannya.

Baca juga:

RUU Permusikan Picu Kontroversi, Ini Kata JRX Superman Is Dead

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Kiki Pea