CERITA CINTA: Apa Kabarmu, Cinta Pertamaku?

lead image

Teruntuk cinta masa kecilku.

"Cerita Cinta" adalah rubrik untuk kisah cinta nyata yang dituliskan ulang oleh Redaksi. Edisi pertama ini berkisah tentang pengalaman mencintai diam-diam selama 20 tahun yang berakhir tragis.

Aku mengontaknya untuk menjemput di stasiun. Ia datang dengan motor laki-laki, lalu mengajakku sarapan di dekat kampusnya. Setelah tahu aku tak ada teman lain di kota itu, ia menawariku menginap di kosnya.

Aku mengiyakan. Kami sudah mengenal sejak aku dan dia masih belajar berjalan. Kami bukan cuma teman masa kecil, di tempat sesempit desa kami, hubungan kami ibarat saudara angkat. Kecuali bahwa aku saudara angkat yang jatuh cinta dengannya. Cinta pertama pula.

Kosnya berada di gang kecil yang rindang. Hanya ada lima kamar di kos itu. Lainnya diisi anak-anak dari Indonesia Timur yang sangat ramah. Sesampainya di kos pagi itu, ia memperkenalkanku dengan teman-teman kosnya yang sedang mengobrol di teras. Semuanya laki-laki.

Untuk ukuran laki-laki, kamarnya sangat rapi. Ada satu kasur yang tergelar di lantai, sedangkan sisa lantai tertutupi karpet merah. Di bawah jendela, meja pendek lebar menahan beban sebuah komputer tabung model lama. Di pojok kamar, ada lemari pakaian dan lemari buku. Botol-botol minuman mengisi bagian teratas rak buku itu.

“Kota ini dingin, jadi butuh yang hangat-hangat,” katanya sambil tersenyum ketika sadar aku memperhatikan botol-botol itu. Aku maklum. Minum minuman keras tidak dilarang agamanya.

Tiga hari aku menginap di kotanya. Dua hari pertama, aku diam saja di kamar sementara dia berangkat kuliah sepanjang siang. Patah hatiku sedang parah-parahnya dan sebenarnya, datang ke kota ini cuma membuatku pindah tempat untuk bersedih. Bersedih bersama orang yang menjadi cinta pertama, tapi dia tidak mengetahuinya. Patah hati dobel.

Di malam terakhirku di kotanya, ia mengajakku jalan-jalan. Pulangnya, kami membeli dua botol “yang hangat-hangat”. Kami lalu pulang ke kos.

Itu malam yang indah. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami, ia bercerita banyak. Tentang ayahnya yang meninggal sewaktu ia SMP, tentang ibunya yang menikah lagi, tentang hobi mendaku gunungnya, tentang rencana S-2-nya. Ia punya banyak mimpi.

Ia juga bercerita tentang pacarnya yang tempo hari dibawa ke Jogja. Mereka sudah putus karena menurutnya, si pacar kekanak-kanakan. Saking tidak fokusnya aku, sampai 3 hari menginap di kosnya, aku tidak pernah terpikirkan pacarnya itu. Oh, rupanya sudah putus….

Selama tiga hari aku menginap di sana, aku dipersilakan tidur di kasur, ia di karpet. Dia masih sangat sopan seperti dulu. Seperti saat masih sering menjemputku pergi sekolah.

Besoknya aku lanjut pergi ke kota lain. Membuat diri capai oleh perjalanan agar lupa pada patah hati. Setelah pertemuan terakhir itu, kami tidak lagi berkomunikasi. Kami sama-sama sibuk skripsi dan organisasi. Seingatku, aku sekali mengucapkan selamat kepadanya saat ia wisuda.

Jalan hidup berbelok tajam setelah ia lulus kuliah. Dari kawanku di Jogja aku dengar, ibunya meninggal dan ia harus mengurus aset keluarga. Ia pulang kampus, meninggalkan studi S-2-nya.

Kami bertemu lagi empat tahun lalu. Ada teman kami yang menikah, dan teman ini satu kampung dengannya (orang tuaku pindah ke kota lain sehingga kami tidak bisa dibilang sekampung lagi). Aku hadir dan pada malam pernikahan temanku, kami melek semalaman dengan teman-teman masa kecil lain.

Malam itu sangat ribut. Minuman dan makanan terus mengalir dan makin malam, cerita-cerita semakin jorok. Bagaimanapun, tidak ada yang bisa mengalahkan hikayat-hikayat zaman sekolah dulu. Tentang guru A yang suka melawak di kelas, tentang teman B yang pernah ketahuan mengirim surat cinta ke anak sekolah lain dan ketahuan guru, dan seterusnya.

Teman-temanku juga mulai bercerita nostalgia cinta pertama mereka di sekolah dasar.

Saat itulah aku melihatnya tertawa. Teman-teman menggodanya soal mantan pacarnya yang sekelas dengan kami dulu, sekarang si mantan sudah beranak dua.

Dalam tawanya, aku menyaksikan giginya yang rapi itu. Memperhatikan bola matanya yang tentu saja masih cokelat. Mendadak, ada yang mendesak dari dalam perutku. Suatu tanda yang memberitahuku bahwa inilah waktunya untuk berhenti mencintai diam-diam.

Iya, setelah lebih dari 20 tahun, aku masih suka dia. Menyedihkan, ya.

Sementara teman-teman kami ribut saling berebut bercerita, aku mecolek lengannya, memberi kode untuk geser ke teras.

“Ada apa?” katanya saat sampai di teras. Kami cuma berdua di sana.

Aku diam, lalu malah tertawa. Goblok, di usia pertengahan 20-an begini, aku masih kayak orang bodoh saat ingin menyatakan cinta.

Setelah berhasil menenangkan diri, aku mulai membuka mulut.

“Hehehehe.”

Ya, ampun, aku malah ketawa lagi.

Dia ketawa juga melihat orang bodoh di depannya. Kemudian ia tanya lagi, “Kamu kenapa sih?”

“Oke, aku mau jujur.” Akhirnya aku bisa ngomong.

“Waduh, kalau dimulai dengan ‘aku mau jujur’, ini pasti sesuatu yang serius.”

“hehehehe.” Dan aku ketawa lagi. seperti simpanse di film Amerika.

Bersambung ke 20 Tahun Mencintaimu Diam-Diam Bagian 3

Baca kisah sebelumnya: 20 Tahun Diam-Diam Mencintaimu Bagian 1

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Redaksi