Kisah Pria yang Belajar Ilmu Gaib dan Menjadi Dukun

Kisah Pria yang Belajar Ilmu Gaib dan Menjadi Dukun

Menguasai ilmu gaib di abad ke-21.

Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata dukun? Persisnya lagi: dukun santet dan dukun pelet. Apakah berjenggot, pakai blangkon, sudah tua, dan tinggal di gubuknya yang remang-remang dan diselimuti asap kemenyan?

Dalam taraf tertentu, Ari, bukan nama sebenarnya, bisa saya sebut dukun. Ia bisa melakukan pekerjaan dukun pelet atau dukun santet. Kalau mau lebih halus, profesinya adalah exorcist alias pengusir jin. Termasuk jin yang dikirim dukun lain untuk menganggu orang, baik secara fisik maupun psikis. Gangguan seperti itulah yang biasanya kita sebut santet dan pelet.

Gambaran Ari, dukun santet/dukun pelet pertama yang saya temui seumur hidup, adalah sebagai berikut.

Perawakannya sedang. Hidungnya mancung dengan rambut lurus. Ketika kami bertemu di kedai kopi di Plaza Senayan, Jakarta Pusat. Dia yang menyarankan bertemu di mal mewah ini. Jeans pipa semi-cutbray yang ia kenakan mengingatkan saya pada gaya fashion hits awal 2000-an. Dan memang, ia tumbuh sebagai remaja di tahun 2000-an.

Ari adalah lulusan sebuah kampus teknik ternama. Kini, selain menyediakan jasa pengusiran hantu, ia juga bekerja sebagai konsultan usaha rintisan (start-up).

Semua predikat yang ia sandang membuatnya seratus persen meleset dari gambaran seorang dukun, apalagi dukun santet atau dukun pelet. Itulah mengapa pertanyaan pertama saya saat kami bertemu Kamis lalu, 18 Oktober 2018, ialah bagaimana awal mula ia bisa menekuni ilmu supranatural.

Awal mula belajar menjadi dukun

Saya lumayan kaget ketika Ari bilang, ia bukan seorang indigo. Saya pikir semua dukun, mau dukun santet atau apa pun, itu pasti indigo. Nggak, kata Ari, ia memiliki kemampuan supranatural dari hasil belajar.

Hm, bisa dipelajari ternyata, batin saya. Ceritanya berawal dari sini....

Setelah lulus S-1 di Indonesia, pada 2005 ia melanjutkan studi master di luar negari. Setahun kemudian ia mendapat kabar buruk dari tanah air.

Adiknya mengabari lewat telepon bahwa ayah mereka menikah lagi. Pernikahan itu langsung mengejutkan Ari karena meski ibu mereka telah meninggal setahun sebelumnya, ayahnya tak pernah menyinggung rencana mengambil istri kedua.

Penjelasan lalu datang dari salah seorang bibi dan jauh lebih mengejutkan. Si bibi mengatakan bahwa ayah mereka dipelet.

"Ternyata diguna-guna. Tahunya karena tanteku ketemu sama yang ngguna-ngguna di tempat dukun. Tanteku kan suka ke tempat dukun, nah pas itu ketemu (istri kedua ayah) lagi minta (pelet) sama dukunnya," kisah Ari.

Dua tahun kemudian ia pulang, langsung mengunjungi keluarga. Dengan perasaan marah, Ari yang sejak SMA menekuni karate mendatangi ibu tirinya. Ia mengancam akan membunuh jika si ibu tiri tak mau melepaskan ayahnya.

Berharap ancamannya berhasil, yang terjadi justru ia dicokok polisi.

"Akhirnya aku sadar, ilmu kekerasan, ilmu bela diri yang aku punya, nggak bisa untuk melindungi keluarga. Gara-gara itu aku belajar ilmu gaib dengan serius untuk bisa melindungi keluarga."

Kondisi ayahnya membuat Ari bertekat mencari orang yang bisa melepas pelet tersebut. Ia pergi mencari kiai-kiai yang bisa mengatasi gangguan jin seperti pelet. Tapi usahanya tidak berbuah hasil.

Orang yang berhasil "menyembuhkan" ayahnya adalah seorang master karate. Ia adalah pemimpin organisasi karate tempat Ari belajar.

"Aku dibawa omku, dikenalin. Habis itu dia tanya ada masalah apa, aku ceritain. Besoknya bapakku langsung cerai. Emang sakti bener itu orangnya."

Setelah kasus ayahnya terselesaikan, Ari bertekat untuk menekuni ilmu gaib dan menguasainya.

Cara menguasai ilmu gaib

Tempat pertama Ari belajar ilmu gaib juga agak aneh buat orang yang kebanyakan nonton film seperti saya. Ia belajar dari forum di Kaskus.

Selain dari Kaskus, ia juga berguru pada seorang master reiki (teknik penyembuhan menggunakan tenaga dalam), kemudian pada seorang kiai yang masih punya garis darah dengan Sunan Kalijaga.

Ilmu gaib yang bisa dikuasai manusia, ujar Ari, datang dari 3 sumber, yakni energi dari dalam diri, dari kekuataan doa atau mantra, dan dari kekuatan makhluk halus.

Untuk mendapatkan kemampuan supranatural (Ari menyebutnya "ilmu"), ada berbagai cara yang ia tempuh. Semasa belajar pada guru santri tersebut, ia berpuasa dan mengulang bacaan hingga ribuan kali.

"Ilmu dia cengkok Arab, namanya ilmu hikmah yang pakai wirid. Aku nebus ilmunya pakai puasa dan baca bacaan sampai ribuan kali, berharap ada jin yang datang bantu."

Kata Ari, semua ilmu memiliki jin penjaga yang disebut qodam. Ketika mengamalkan sejumlah bacaan, ia mengharap jin penjaga ilmu itu akan datang dan mendiami tubuhnya. Sedangkan puasa adalah cara untuk "membersihkan tubuh" dan menyamakan energi antara diri dan qodam tersebut.

"Puasa, tirakat, adalah syarat keilmuan untuk membeli ilmu. Mata uangnya bukan uang, tapi laku (istilah Jawa untuk menyebut sejumlah tindakan yang dilakukan guna memenuhi syarat tertentu)."

"(Laku juga berfungsi) untuk mengubah jalur energi agar bisa mendukung keilmuan itu. Misalnya kita belajar ilmu jalasutra, nanti ada makhluk halus datang, badan kita diubah. Nanti sakit dulu setengah bulan, demam. Itu badan kita sedang diubah biar energinya cocok dengan ilmu itu."

"(Macam puasa itu) ada puasa Ramadan, puasa ngebleng, puasa ngrowot. Puasa ngrowot itu cuma makan umbi-umbian, gunanya untuk mengambil energi dari bumi. Sedangkan puasa ngebleng nggak tidur selama 3 atau 7 hari. Orang-orang yang melakukan laku seperti itu energinya besar dan umurnya panjang."

Sembari berguru, Ari masih aktif di Kaskus. Ia kemudian membuka jasa seputaran ilmu gaib di sana. Tujuannya untuk berlatih. Apa saja ia lakukan: mengirim santet, menyembuhkan santet, mengirim pelet, menyembuhkan pelet, mengusir jin pengganggu rezeki, dan seterusnya.

Dengan belajar mengirim santet, ia bisa berlatih menyembuhkan santet. Demikian juga dengan pelet.

Pada akhirnya, semua pelajar ilmu gaib harus mempelajari spesialisasi mereka masing-masing. Penentunya adalah di bidang apa si pelajar merasa paling andal--ada faktor kesesuaian energi, bakat, dsb. di sana. Ari lalu memutuskan menekuni bidang pengusiran makhluk gaib.

Menjadi dukun santet atau dukun pelet berarti harus berhati-hati pada karma

Dengan kekuasaan yang diberikan ilmu supranatural mereka, sangat mudah bagi para dukun untuk melakukan apa saja semau mereka. Tapi itu hanya bisa mereka lakukan sepanjang mereka tak takut karma.

Semua perbuatan di dunia, ujar Ari, agar menuai karma, baik maupun buruk. Bagi mereka yang menekuni ilmu gaib, ketika mereka melakukan hal-hal jahat, karma buruk atau sengkala sudah menanti. "Sengkalane wis cemepak, karmanya sudah disiapkan," ujar Ari.

Ari lalu menunjukkan WhatsApp seorang teman sesama dukun kepada saya. Hari ini, usai mengobrol dengan saya, ia akan bertemu seorang klien yang ingin meminta bantuan memelet. Si klien, seorang pria, ingin memelet pria lain yang ia taksir.

Ari menawari temannya untuk memenuhi permintaan si klien dengan "mahar" Rp2 juta. Di percakapan WhatsApp itu saya bisa membaca bahwa tawaran itu ditolak mentah-mentah. "Sengkalane medeni," tulisnya. Karmanya mengerikan.

Di dunia supranatural, mengirim pelet atau pengasihan saja sudah satu pelanggaran. Apalagi jika pelet itu untuk memikat sesama jenis. Tidak ada yang membenarkan perilaku LGBT di dunia supranatural, kata Ari.

Tentu saja saya heran. Jika temannya tak mau, kenapa Ari masih mengiyakan untuk menjadi dukun pelet bagi kliennya ini?

Ari bersandar pada asumsi bahwa niat menyantet atau memelet tak akan hilang dari benak pelaku sampai keinginan itu diwujudkan. Demi menghalangi terjadinya niat buruk, ia akan menerima permintaan memelet atau menyantet yang pada akhirnya, tak akan pernah ia kerjakan.

Sejak dua tahun lalu, Ari yang lumayan populer di Kaskus ini memasang tarif untuk jasa profesional. Untuk konsultasi, tarifnya sekira Rp800 ribu. Sedangkan eksekusi, jika selesai dalam sehari, ongkosnya Rp700 ribu.

Saya kepikiran si klien yang akan datang setelah saya ini. Dia bakal buang uang untuk sesuatu yang sia-sia. Setiap hal yang menjanjikan kesuksesan instan memang harus selalu dicurigai.

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!