Kuntilanak dalam Film-Film Suzzanna Merupakan Sosok Pembasmi Kejahatan

lead image

Ketika kuntilanak menjadi protagonis.

Satu lagi film kuntilanak dibuat. Film baru Indonesia berjudul “Suzzanna: Bernapas dalam Kubur” ini bukan hanya mengingatkan kita pada sang Ratu Film Horor, tetapi juga membuat bertanya-tanya:

Mengapa hantu satu ini sangat populer di kebudayaan populer?

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

🌚 #Suzzanna #bernafasdalamkubur

A post shared by Luna Maya (@lunamaya) on

Kuntilanak bisa dikenali sebagai hantu perempuan berbaju putih panjang, rambut hitam tergerai, berwajah pucat, dan bersuara melengking. Inilah sosok hantu paling terkenal di Indonesia selain pocong dan genderuwo.

Selama berdekade-dekade, film kuntilanak diproduksi. Tiga puluh tujuh tahun setelah Suzzanna yang asli menakut-nakui penonton dan tukang sate dalam “Sundelbolong” (1981), “Suzzanna: Bernapas dalam Kubur” diproduksi Soraya Intercine Films.

“Suzzanna: Bernapas dalam Kubur” menampilkan Luna Maya sebagai Suzzanna sebagai kuntilanak. Suzzanna memang merupakan pemeran kuntilanak paling seram dalam sejarah layar lebar Indonesia. Puluhan kali ia tampil di layar perak sebagai kuntilanak.

Melihat trailer film ini, Luna Maya jadi sangat mirip dengan Suzzanna. Dari wajah sampai ke suaranya. Hiiiy!

“Suzzanna: Bernapas dalam Kubur” akan ditayangkan di bioskop mulai 15 November 2018. Tepat 10 tahun 1 bulan setelah kematian Suzzanna asli pada 15 Oktober 2008.

Sejarah kuntilanak, hantu feminis

Kuntilanak di Indonesia, pontianak di Malaysia. Begitulah nama hantu ini disebut. Dan ya, ibu kota Kalimantan Barat itu memang dinamai sesuai nama hantu itu.

Walau ada beberapa versi, umumnya kuntilanak dipercayai sebagai arwah penasaran perempuan yang meninggal saat hamil besar atau meninggal saat melahirkan. Ia memburu laki-laki dan menyiksa korbannya dengan mengoyak-ngoyak perut mereka atau mengisap darah mereka dari leher.

Selain dikenal doyan tinggal di ketinggian, terutama pohon, kehadiran kuntilanak bisa ditandai dengan terciumnya bau bunga kamboja dan suara tawa yang melengking.

Hihihihi. Kayak gitu ketawanya.

Vice pernah menulis bahwa kuntilanak adalah hantu sekaligus simbol feminisme.

Dalam kultur patriarkal Asia Tenggara, kuntilanak adalah contoh perempuan yang melawan larangan-larangan tidak masuk akal masyarakat terhadap perempuan.

“Dia bisa jalan sendirian dan tidak perlu ditemani laki-laki; dia bisa jadi sangat cantik dan provokatif sesuai yang dia mau; dia bisa sangat manis dan menggoda; tapi jangan pernah menyentuhnya tanpa consent (persetujuannya) karena dia akan mengoyak-ngoyakmu,” kata Amanda Nell Eu, sutradara asal Kuala Lumpur kepada Vice.

Amanda mengatakan itu dalam kapasitasnya sebagai sutradara yang pernah membuat film kuntilanak (atau pontianak, dalam bahasa Malaysia) berjudul “It’s Easier to Raise Cattle”.

“Dan dia bisa begitu (melanggar aturan masyarakat) karena dia sudah mati,” tambah Dr. Alicia Izharudin, masih dikutip dari Vice. Alicia adalah dosen kajian gender di University of Malaya.

Vice menulis bahwa di sejumlah negara Asia Tenggara ada kepercayaan bahwa ketika pria berjalan di malam hari, ia tak boleh menengok wajah perempuan cantik (lalu tahu dari mana perempuan itu cantik?). Sebab, bisa jadi perempuan itu adalah kuntilanak.

Apa yang dikemukakan Amanda dan Alicia masuk akal ketika kita merunut cerita dalam film-film kuntilanak yang pernah dimainkan Suzzanna asli.

Asal-usul kuntilanak dalam film kuntilanak

Dalam “Beranak dalam Kubur” (1972), kuntilanak adalah perempuan hamil yang mati penasaran.

Tengah hamil tua, Suzzanna dibunuh oleh saudara perempuannya yang iri dengan kehidupannya. Dalam kubur, mayat Suzzanna melahirkan dan ia malih menjadi kuntilanak yang membalas dendam kepada pembunuhnya.

“Sundelbolong” (1981) adalah film yang memuat adegan terkenal ketika Suzzanna makan sate 200 tusuk malam-malam dan jalan-jalan di kuburan pakai egrang.

Jujur, film itu kalau ditonton lagi sekarang, bukannya menakutkan, malah jadi lucu.

film kuntilanak luna maya bernapas dalam kubur beranak dalam kubur

Poster film “Beranak dalam Kubur” (1971). Sumber: Wikipedia

Dakam film ini, Suzzanna menjadi perempuan yang hamil setelah diperkosa. Ia kemudian bunuh diri dalam kondisi hamil. Setelah mati, ia bergentayangan sebagai kuntilanak yang perutnya bolong. Inilah yang menurut kultur Sunda disebut sundel bolong.

Di film “Telaga Angker” (1984), Suzzanna lagi-lagi menjadi perempuan hamil yang dibunuh. Kali ini, ia dibunuh dengan cara mobilnya ditenggelamkan ke dalam danau oleh saudara iparnya. Setelah mati, Suzzanna menjadi kuntilanak yang menuntut balas dendam.

sementara di film “Malam Jumat Kliwon” (1986), Suzzanna menjadi sundel bolong karena guna-guna dukun. Kandungan Suzzanna dibuat pindah ke punggung dan ia melahirkan dalam kubur. Sudah bisa ditebak, ia gentayangan untuk membunuh pembunuhnya.

Terakhir, di film “Malam Satu Suro” (1988), Suzzanna menjadi kuntilanak bernama Suketi (pasti Anda ingat nama ini) yang berubah menjadi manusia. Caranya dengan menancapkan paku di kepalanya.

Setelah menjadi manusia, Suzzanna menikah dengan manusia dan memiliki dua anak.

Namun, saingan bisnis suaminya yang iri dengan kebahagiaan mereka menyabotase keluarga itu. Paku di kepala Suzzanna dicabut, lalu anak perempuannya dibunuh.

film kuntilanak luna maya bernafas dalam kubur malam satu suro

Poster film “Malam Satu Suro” (1988). Sumber: Wikipedia

Penjahat yang melakukannya jelas penjahat yang tidak punya otak. Jelas si ibu yang sudah balik jadi hantu ini marah dan memburu mereka untuk membalas dendam.

Format serupa juga masih berlaku di film “Suzzanna: Bernafas dalam Kubur”-nya Luna Maya tadi.

Dikisahkan dalam film ini, Luna Maya a.k.a. Suzzanna adalah seorang istri yang terbunuh saat rumahnya dirampok. Ia menjadi kuntilanak untuk memburu pembunuhnya.

Intinya, dalam film-film kuntilanak Indonesia, para kuntilanak itu adalah perempuan hamil atau ibu rumah tangga yang dizalimi dan harus menegakkan keadilan dengan tangannya sendiri.

Dengan kata lain, walau wujudnya adalah hantu dan tangannya berlumur darah korban, si hantu sebenarnya protagonis yang baik dan menimbulkan simpati penonton.

Jadi, mari kita tambahkan. Selain sebagai ikon feminisme, sebenarnya kuntilanak juga pembela kebenaran pembasmi kejahatan itulah dia Wiro Sableng.

Halah, malah jadi nyanyi.

 

Penulis

Redaksi