Tuntut Royalti Gambar Rokok, Berapa Kira-Kira Royalti Dadang Mulya?

lead image

Dadang Mulya dari Kuningan mengaku fotonya dipakai sebagai gambar rokok untuk peringatan bahaya merokok. Jika tuntutannya benar, berapa besar royaltinya?

Seorang pria dari Kuningan terancam menjadi orang terkaya di Indonesia bila klaim yang ia lemparkan ke publik 23 Juli terbukti. Dadang Mulya, 42 tahun, mengaku fotonya dipakai tanpa izin sebagai gambar peringatan di bungkus rokok. Sekarang ia hendak menuntut ganti rugi.

Foto gambar rokok diambil tanpa izin

Pengakuan Dadang Mulya kali pertama dimuat di Kuninganmass.com pada Senin, 23 Juli 2018. Ia berkisah, foto itu diambil pada 2012. Saat sedang menonton bola di lapangan, ia dipotret seorang sales rokok dengan pose sedang mengembuskan asap sambil tangannya menggendong anaknya.

Dadang Mulya mengaku sudah gelisah sejak lama dengan fotonya nampang di mana-mana. Sejak 2014 gambar peringatan memang muncul di bungkus rokok yang beredar di Indonesia. Kurang jelas bagaimana ceritanya, beberapa waktu lalu ia memutuskan melaporkan masalah ini ke Kepolisian Sektor Pancalang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Oleh polisi, persoalannya diteruskan kepada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kuningan.

Tapi, "This guy man is full of shit," kata akun Astargea di Reddit. Akun ini menunjukkan, foto lelaki merokok yang sedang menggendong anak sudah ada sejak 2005 di bungkus rokok yang beredar di Thailand. Ia menyertakan tautan ini.

Tapi, kesaksian Dadang dikuatkan oleh para tetangga yang mengaku mengenali wajah dan kaus yang dipakai ayah empat anak ini dalam foto tersebut.

Begitu kasus Dadang Mulya mengemuka, ia langsung mendapat bantuan hukum. Seorang pengacara bernama Dudung Hidayat ia limpahi surat kuasa untuk menuntut royalti atas pemakaian foto tanpa izin ini.

Jika benar itu foto Dadang, siapa yang harus membayar royaltinya? Kepada media, humas Sampoerna mengatakan bahwa enam varian foto peringatan yang dipakai di bungkus rokok didapat perusahaan dari pemerintah, yakni Kementerian Kesehatan.

Seperti yang sudah diduga, Kementerian Kesehatan tentu menampik tuduhan mereka menggunakan foto tanpa izin. Namun, ada inkonsistensi pernyataan. Mulanya Kemenkes berkata bahwa mereka sudah memiliki izin atas penggunaan foto itu, yang Dadang bukanlah modelnya. Belakangan, setelah media ikut mengamplifikasi kemungkinan "foto Dadang" sudah dipakai di Thailand sejak 2005, Kemenkes ikut bersuara sama.

Gambar rokok menyeramkan

Rokok di Indonesia akhirnya menampilkan peringatan gambar setelah proses yang berbelit. Dasar hukumnya adalah Undang-Undang Kesehatan Tahun 2009. Setelah itu, petunjuk pelaksanaannya dibuat dalam PP 109/2012 dan Permenkes 28/2013. Lalu, baru pada 24 Juni 2014 semua rokok menyertakan peringatan gambar ini. Ada lima gambar yang dipakai.

Namun, pada Mei 2018, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa gambar ini tidak berhasil menakut-nakuti perokok dan calon perokok. Jumlah perokok malah naik. Di Internet, orang bahkan membuat parodi lucu-lucuan untuk gambar-gambar tersebut.

Gambar lelaki tak berbaju yang sedang merokok ini malah diinterpretasikan dengan jenaka sebagai penggambarannya kepuasan mengisap tembakau. Gambar ini juga dipakai di rokok-rokok di Thailand.

Karena tidak efektif, pada peringatan Hari Antitembakau Sedunia 31 Mei 2018, Kementerian Kesehatan menyatakan akan mengganti tiga gambar rokok dengan gambar yang lebih menyeramkan. Gambar yang diklaim Dadang salah satunya.

Tiba-tiba mencabut pengaduan

Hanya 3 hari setelah klaimnya menjadi sensasi nasional, mendadak Dadang mencabut pengaduannya sekaligus menarik surat kuasa yang sudah ia limpahkan kepada pengacara. Ia mengaku sebenarnya tidak bermaksud membuat "masalah" atau menuntut siapa pun, perusahaan rokok atau Kementerian Kesehatan, regulator soal gambar peringatan di bungkus rokok.

Kasus ini berakhir antiklimaks. Warganet bertanya-tanya, mengapa sikap Dadang tidak konsisten? Apa ia ditekan oleh pihak-pihak tertentu? Bagaimanapun, jika kasus ini terus, ada uang yang sangat banyak terlibat dalam masalah ini. terutama jika Dadang terbukti benar.

Kami mencoba menghitung secara kasar dan tidak saintifik jumlah yang bisa diperoleh Dadang dari tuntutan hak ciptanya.

Sejak 2014, jumlah produksi rokok nasional cenderung menurun—berkebalikan dari pernyataan Kemenkes bahwa jumlah perokok naik. Apakah ada cara berbeda untuk menghitungnya?

Berikut jumlah produksi rokok di Indonesia sejak 2014 sampai 2017.

  • 2014: 345 miliar batang
  • 2015: 348 miliar batang
  • 2016: 342 miliar batang
  • 2017: 321,9 miliar batang

Jumlah rokok dalam setiap bungkus bervariasi, ada yang 10, 12, 16, dan 20 batang. Jika kita ambil angka moderat, 16 batang per satu bungkus, artinya 1,3 triliun batang rokok yang diproduksi sepanjang 2014-2017 setara dengan 85 miliar bungkus.

Dengan harga per bungkus terendah Rp16.000, maka 85 miliar bungkus x Rp16.000 = 1.360 triliun.

Dari rata-rata harga Rp16.000, sepertiganya adalah biaya cukai. Misalkan Pak Dadang tidak kemaruk-kemaruk amat, dia hanya minta 0,01% royalti dari harga rokok, ia bisa mendapat uang sebanyak Rp136 miliar. Tentu saja itu jumlah sangat besar yang seketika membuat Bu Dendy jadi tampak sangat miskin.