Dilarang Pacaran, Gadis 15 Tahun Gantung Diri

Dilarang Pacaran, Gadis 15 Tahun Gantung Diri

Korban masih duduk di bangku SMP.

“Hanya ada satu masalah filosofis yang benar-benar serius, dan itu adalah bunuh diri,” tulis filsuf eksistensialis Prancis Albert Camus. Ada banyak alasan yang bisa membuat seseorang bunuh diri, tetapi sangat sedikit yang akhirnya mengambil keputusan untuk benar-benar mencabut nyawa diri sendiri. Dan gadis 15 tahun asal Sukabumi, Jawa Barat ini melakukan gantung diri karena putus cinta setelah orang tuanya melarangnya berpacaran.

Gantung diri karena putus cinta: Dilarang pacaran, gadis 15 tahun gantung diri
gantung diri karena putus cinta siswa smp bunuh diri siswa smp gantung diri dilarang berpacara apa itu bunuh diri penyebab bunuh diri

Gantung diri karena putus cinta: Dilarang pacaran, gadis 15 tahun gantung diri

Nurjanah, 15 tahun, asal Kampung Citawali, Desa Darmareja, Nagrak, Sukabumi mencabut nyawanya sendiri dengan cara menggantung diri pada 20 Maret 2019. Di kusen pintu kamarnya, ia menambatkan kain batik cokelat yang kemudian memutus napasnya.

Jenazahnya kali pertama ditemukan oleh sahabatnya, Rina, pada pukul 8 pagi. Sebelum ditemukan telah meninggal, Nurjanah sempat menemui Rina dan menuturkan masalah yang tengah mengimpitnya. Sembari menangis, ia menyedihkan keputusan orang tuanya yang melarangnya berpacaran.

Kepada Rina, saat itu Nurjanah juga mengatakan bahwa ia lebih baik mati ketimbang menghentikan hubungannya dengan sang kekasih.

Tiga puluh menit kemudian, Nurjanah ditemukan telah meregang nyawa. Tak ada yang menyangka bahwa ia akan gantung diri karena putus cinta.

Menurut Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Nagrak AKP Parlan, orang tua Nurjanah melarang anaknya berpacaran karena takut sekolah anaknya berantakan.

“Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tidak sukses hidupnya sehingga melarang untuk pacaran dulu. Karena masih di bawah umur juga, masih duduk di bangku SMP,” terang AKP Parlan. 

Angka bunuh diri di kalangan remaja naik dua kali lipat

Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, bunuh diri adalah penyebab kematian tertinggi kedua di kelompok usia 15-29 tahun. Ada 800 ribu kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia tiap tahunnya, atau rata-rata, setiap 40 detik, ada satu orang mati karena bunuh diri.

Angka kematian karena bunuh diri di dunia jauh lebih tinggi dibanding kematian yang disebabkan oleh perang dan pembunuhan.

Di Indonesia pada 2010, ada 5 ribu kasus bunuh diri. Angka ini naik dua lipat menjadi 10 ribu kasus dua tahun kemudian, di 2012. Melonjaknya angka kasus bunuh diri sudah seharusnya menyalakan sirine tanda bahaya agar pemerintah segera memperhatikan masalah ini.

Data Badan Pusat Statistik 2016 mencatat, angka kematian tertinggi di Indonesia ada di Jawa Tengah, disusul Jawa Timur, Bali, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

Dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan dr. Fidiansyah, Sp.K.J. mengatakan, data Kementerian Kesehatan mencatat bahwa 60% anak perempuan di Indonesia merasakan kesepian.

Bunuh diri, tidak kenal gender dan kelas ekonomi

Dari tahun ke tahun, kasus bunuh diri selalu mengemuka, terutama ketika terjadi di kalangan selebritas. Nama koki Anthony Bourdain, penyanyi Chester Bennington, DJ Avicii, desainer Kate Spade, aktor Robert William, dan lain-lain.

Februari 2019 silam, seorang mahasiswa laki-laki bunuh diri di depan umum dengan cara melompat dari atap Transmart Lampung. Sebelumnya, pada 2017, seorang laki-laki menggantung dirinya dan menyiarkan proses gantung diri itu secara langsung di media sosial.

Masih di 2017, dua orang perempuan kakak beradik paruh baya bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 5 apartemen kediaman mereka di Bandung.

Terakhir, Januari lalu, drummer band Filipina bernama Razorback berusia 41 tahun bunuh diri dengan cara lompat dari atap apartemennya. Ia juga menyiarkan aksi bunuh diri itu di Facebook.

Akibat Depresi Berat, Drummer Band Ini Siarkan Aksi Bunuh Diri di Facebook!

Sejak 2003, tanggal 1 September ditetapkan sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia.

Mengapa orang bunuh diri?

Dalam banyak kasus bunuh diri yang korbannya selamat, mereka sebenarnya tak benar-benar ingin mati. Mereka hanya ingin menghentikan rasa sakit yang mereka alami yang sudah termasuk salah satu gejala depresi akut. Penulis David Foster Wallace menjelaskan pikiran bunuh diri ini dengan sangat bagus lewat analogi gedung yang sedang terbakar.

“Ketika dalam diri seseorang ada kepedihan yang sudah mencapai tingkat tak tertahankan akan melakukan bunuh diri seperti yang dilakukan oleh orang yang terperangkap di gedung yang sedang terbakar dan smereka pontan melompat dari jendela. Jangan salah pahami orang yang melompat dari jendela gedung yang terbakar. Mereka sebenarnya sangat takut melompat. Tapi ada teror lain, yakni kobaran api yang menjilat-jilat. Ketika apinya sudah dekat dengan mereka, mati karena jatuh jadi kelihatan lebih mudah daripada mati karena terbakar.”

Banyak dari kita yang tidak memahami bagaimana pikiran bunuh diri bisa muncul kemudian terlambat untuk mencegah perbuatan itu. Dengan memahami penyebab seseorang mencabut nyawanya sendiri, kita bisa menyelamatkan orang terdekat kita.

Berikut sejumlah catatan yang perlu kita pahami mengenai bunuh diri.

  • Biasanya diambil lewat keputusan yang emosional dan tidak masuk akal
  • Kita tak bisa menyalahkan faktor depresi semata. Tidak semua korban bunuh diri mengalami depresi.
  • Orang dengan ide bunuh diri merasa terperangkap tanpa jalan keluar
  • Perempuan lebih sering ingin bunuh diri, tapi prialah yang lebih sering mati karena bunuh diri
  • Bunuh diri bisa dicegah

Jika kamu mendapati tanda-tanda itu pada orang yang kamu sayangi, tetap bersama orang tersebut. Singkirkan barang apa pun yang bisa digunakan untuk bunuh diri. Siapkan waktu untuk bicara dengannya. Mengobrol adalah aksi penting dalam proses penyembuhan sekaligus langkah pertama menghalangi usaha bunuh diri.

Kamu juga bisa menghubungi tenaga ahli di sini untuk memberi pertolongan:

Sumber: Kumparan, Her Style Asia, Katadata

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!