Jodoh dalam Islam: 3 Hal yang Sering Disalahpahami

lead image

Jodoh dalam Islam bukanlah jodoh yang sepenuhnya ditentukan Tuhan. Manusia harus berusaha baru kemudian Tuhan menilai dan menentukan.

Acara Shihab dan Shihab di YouTube memiliki satu edisi menarik berjudul #JodohPastiBertemu. Quraish Shihab dan Najwa Shihab berbincang mengenai makna dan pengertian jodoh dalam Islam. Menariknya, konsep jodoh dalam Islam berbeda dengan yang umum dipahami awam.

Berikut poin-poin kunci tentang jodoh dalam Islam menurut paparan Quraish Shihab.

#1 Jodoh bukan sepenuhnya ditentukan Tuhan. Manusia harus berusaha barulah Tuhan menentukan. Itu berarti, jodoh tak boleh ditunggu, melainkan harus diusahakan.

Menurut Quraish Shihab, jodoh dalam bahasa Indonesia berarti ‘pasangan’. Dalam bahasa Arab, sinonimnya adalah “zawuj”. Allah berfirman dalam Al-Quran bahwa “Segala sesuatunya telah Kami ciptakan memiliki pasangannya supaya kamu sadar bahwa penciptanya tunggal dan mahaesa.”

Hanya saja, ada pasangan yang telah ditetapkan dan tidak bisa diubah, misalnya pasangan siang dan malam, ada pula ciptaan yang diberi kebebasan terbatas untuk mengusahakan pasangannya. Termasuk yang kedua ini adalah jodoh manusia.

Namun, kebebasan manusia dalam menentukan jodohnya bukan seperti daun yang diembus ke mana arah angin pergi. Jodoh manusia tidak bebas sepenuhnya di tangan manusia.

Dalam pandangan mayoritas ulama, manusia memiliki kemampuan untuk berusaha. Hasil usahanya tersebut yang kemudian ditentukan oleh Tuhan. Ketika kedua belah pihak saling mau, yang menentukan tetaplah Tuhan di atas.

Dengan demikian, Anda harus berusaha. Anda tidak bisa menunggu. Usaha manusia dalam mendapatkan jodoh dilakukan dengan berbagai cara. Bergaul dengan kawan baru, bepergian, datang ke pengajian.

Di antara cara itu, salah satunya ialah dengan berdoa kepada Tuhan. “Ya Allah, semoga apa yang aku kehendaki Kamu restui.” Siapa tahu, Tuhan akan menetapkan bahwa Anda akan diberi jodoh ketika Anda berusaha.

Ibaratnya, mencari jodoh sama halnya dengan kematian. Ketika seseorang sakit, usianya bisa hanya sekian ketika ia tidak berobat. Namun, ketika ia berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat, Tuhan bisa berkenan memperpanjang usianya.

#2 Jodoh itu rezeki: bisa mudah didapat, bisa pula sulit. Sulit mendapat jodoh bukan berarti cobaan, sulit mendapat jodoh bukan berarti kelak akan tidak bahagia.

Menurut Quraish Shihab, jodoh yang diusahakan bisa mudah didapat, bisa pula sulit didapat. Bisa jadi tanpa kita berusaha, dia datang—sama seperti rezeki. Karena jodoh adalah salah satu bagian dari rezeki, orang harus mengusahakannya.

Namun, apa itu rezeki? Rezeki adalah apa yang kita peroleh dan apa yang kita dapat manfaatkan. Demikian pula jodoh.

Quraish lalu berkisah tentang sejarah pernikahannya. Hanya berselang 1 bulan dari pertemuan pertemuan pertama mereka, Quraish dan Fatmawaty menikah. Quraish merasakan bahwa Fatmawaty-lah jodohnya karena proses menuju pernikahan begitu mudah dibandingkan dengan usaha-usaha sebelumnya. “Sebelumnya, berusaha, berusaha, selalu mentok,” ujar Quraish.

Namun, Quraish mengingatkan untuk jangan mengaitkan susah mudahnya mendapatkan jodoh dengan bahagia tidaknya kehidupan pernikahan.

Dalam proses mendapatkan jodoh, seseorang harus bersabar. Sabar yang bukan cuma menanti, tapi juga sembari berusaha. Bahkan introspeksi diri pun perlu: jangan-jangan usaha selama ini belum maksimal?

Dalam bersabar tersebut, sebagai penuntun hati, perlu dipahami bahwa “tidak semua yang kita anggap buruk memang buruk” dan sebaliknya. Jika Anda sudah berusaha dan tidak berhasil, yakinlah, itu ketentuan Allah yang terbaik untuk Anda.

Setua apa pun Anda, sesulit apa pun usaha yang sudah Anda lakukan, jangan sampai Anda putus asa. Putus asa adalah perilaku orang yang tidak beragama.

Ketika usaha Anda belum menghasilkan, Anda perlu introspeksi.

Boleh jadi itu karena Anda terlalu pemilih….

Bisa jadi ada sifat Anda yang menonjol yang tidak disukai orang lain….

Bisa jadi saat ini Anda belum berkenalan dengan jodoh Anda… dan seterusnya.

Juga, jangan sampai Anda membatasi diri bahwa jodoh harus didapat pada usia sekian atau sekian. Kalau kita ingat, baru di usia 40 tahun Khadijah menikahi Nabi yang sangat mencintainya itu.

Jika Anda sudah memiliki orang yang Anda idamkan, bahkan diperbolehkan memohon kepada Tuhan agar dijodohkan dengannya. Jangankan menyebut nama calon jodoh yang kedudukannya sangat penting dalam agama, terang Quraish, berdoa menginginkan alas kaki, tas, atau mobil dengan menyebut mereknya pun diperbolehkan.

Asalkan, tambah Quraish, nama yang disebut tersebut bukan pasangan orang lain. Sedapat-dapatnya kita hanya bisa berdoa, “Ya Allah, saya ingin mendapat jodoh seperti istri atau suami si A.”

#3 Tanda seseorang adalah jodoh kita

Bagaimana mengetahui seseorang adalah jodoh kita? “Ketika hati bergetar,” kata Quraish Shihab.

Ketika seseorang berhadapan dengan orang lain, akal dan hatinya bekerja menakar orang di hadapannya. Bila menilai orang lain dengan akal semata, tak ada seorang pun yang tidak memiliki kekurangan.

Sementara, hati punya pertimbangan yang berbeda. Karena akal akan selalu menyodorkan kekurangan demi kekurangan orang lain, saat Anda menyukai seseorang, maka tanyakanlah kepada hati Anda. Ketika hati Anda tergerak, ia akan memberi pembenaran kepada akal.

Keputusan hati menjadi yang terpenting karena sakinah, mawadah, warahmahnya pernikahan berkaitan dengan hati.

Baca juga Kecanduan Cinta ala Limerence: Cinta, Deritanya Tiada Akhir

Penulis

Redaksi