Siswa SMA Meninggal, Diduga karena Dipukul Guru Agama dengan Gayung

Siswa SMA Meninggal, Diduga karena Dipukul Guru Agama dengan Gayung

Dipukul karena korban tertidur saat pelajaran.

Seorang siswa SMA kelas XI di Sumenep, Madura meninggal dunia, diduga karena dipukul oleh guru agamanya di bagian kepala dengan menggunakan gayung. Peristiwa ini menambah satu lagi kasus kekerasan di sekolah berujung tragis.

Kekerasan di sekolah: Siswa SMA meninggal, diduga karena dipukul dengan gayung oleh guru agama

kekerasan di sekolah anak smp guru membunuh murid guru memukul murid sampai tewas siswa SMA

Siswa kelas XI di SMA Negeri Batuan, Sumenep itu membuat amarah gurunya memuncak karena tertidur di kelas selama pelajaran Agama. Selain itu, siswa berinisial ADR tersebut juga tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Namun, itu bukan pembenaran untuk tindakan sang guru selanjutnya. Guru Agama itu memutuskan menghukum korban dengan memukulkan gayung ke dahi korban.

Menurut penuturan keluarga korban, setelah dipukul, ADR merasa sakit di bagian kepala, kemudian mengalami kejang-kejang yang berujung dengan tidak sadarkan diri.

Korban sempat dibawa ke Puskesmas Lenteng dan kemudian Rumah Sakit Daerah dr. H. Moh Anwar, Sumenep. Masih tak mampu menangani, korban lanjut dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Pamekasan.

Di RSUD Pamekasan, hasil rontgen menyatakan ada pembekuan darah di otak belakang akibat pukulan gayung tersebut. Rumah sakit kemudian menyarankan agar korban dibawa ke Rumah Sakit dr. Soetomo di Surabaya yang lebih lengkap.

Namun, belum lagi perjalanan ke Surabaya dilakukan, korban sudah lebih dahulu mengembuskan napas terakhir.

Menurut pengacara keluarga korban, Hawiyah Karim, peristiwa kekerasan di sekolah yang berujung dengan kematian siswa ini akan dilaporkan ke kepolisian setempat hari ini, Kamis, 21 Maret 2019.

Sekolah punya versi berbeda

Jika keterangan keluarga mengesankan bahwa kematian terjadi tak berselang lama dari pemukulan, Kepala Sekolah SMA Negeri Batuan Solehudin mengatakan, pemukulan itu sudah terjadi berbulan lalu, yakni pada November 2018.

Ia mengatakan, setelah kejadian, ADR masih bersekolah seperti biasa. Tambah lagi, pemukulan dengan gayung itu tidak dilakukan dengan keras. Gayung plastik yang digunakan sang guru memang pecah, tetapi itu bukan karena pemukulan, melainkan memang sudah pecah sejak awal.

Kepala Sekolah mengetahui siswa ADR mulai sakit pada bulan Februari 2019. Ada benjolan di bagian belakang kepala korban dan mata kiri korban bengkak.

Solehudin menepis ciri fisik sakit itu akibat pemukulan oleh guru.

Setelah Bertengkar, Pria Ini Lempar Istrinya dari Lantai 4 Bandara di Taiwan

“Diduga itu bukan akibat dipukul gayung karena dipukulnya kan di dahi, bukan di kepala belakang. Jadi, diduga (benjolan itu) karena sebab lain,” katanya.

Solehudin juga mengatakan bahwa masalah pemukulan guru Agama terhadap ADR sudah diselesaikan secara damai antara keluarga siswa dan sekolah.

“Persoalan ini sudah selesai. Keluarga korban minta maaf kalau ada kabar tidak mengenakkan di luar. Dan mereka berjanji tidak akan melaporkan kasus ini ke kepolisian,” tambahnya.

Menurut Hukum Online, pemukulan kepada siswa di lingkungan sekolah, baik yang dilakukan oleh guru, tenaga kependidikan lainnya, maupun oleh sesama siwa, dapat digolongkan sebagai “kekerasan kepada anak”. Tindakan ini bisa dipidana menggunakan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Selain lewat jalur hukum, dugaan kekerasan kepada anak di sekolah, baik secara fisik maupun verbal, bisa dilaporkan ke Dinas Pendidikan setempat.

Di Indonesia, kasus kekerasan di sekolah terhitung sering mengisi pemberitaan media. Entah itu kekerasan yang dilakukan guru ke murid, dari murid ke guru, dan kepada sesama murid. Yang terakhir menjadi sensasi ialah ketika seorang guru honorer di Kendal terekam sedang dirundung oleh sejumlah siswanya saat mengajar.

Juga viral di media sosial, pada April 2018 seorang guru dipenjara karena menampar siswa di depan kelas. Aksi itu terekam dan kemudian menjadi perhatian di dunia maya.

Sumber: Kumparan

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

 

Penulis

Redaksi