Video Kucing Diseret Motor di Pekalongan Mengundang Kemarahan

Video Kucing Diseret Motor di Pekalongan Mengundang KemarahanVideo Kucing Diseret Motor di Pekalongan Mengundang Kemarahan

Leher kucing diikat dengan tali dan diseret di jalan raya pada siang bolong.

Sebuah video yang diunggah di Twitter 10 Februari 2019 ini akan membuatmu mual sekaligus geram. Seekor kucing diseret motor dalam kondisi yang tampaknya sudah mati. Leher si kucing dijerat tali kemudian diseret dengan sepeda motor yang dikendarai dua pria pada siang bolong. Kekerasan pada hewan ini bukan yang pertama di Indonesia.

Video viral kucing diseret motor: Menyiksa hewan, ada sanksi pidananya

kekerasan pada hewan

 

Video itu dibagikan oleh akun Twitter @ichafredie pada 10 Februari 2019. Hingga siang ini, video tersebut sudah ditonton 176 ribu kali.

Akun tersebut menerima video itu dari Diefie Hafiez Maufalia, 21 tahun, warga Pekalongan yang merekamnya. Lokasi kejadian ada di Desa Bebel, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Dikutip dari Detik, video itu direkam pada 10 Februari 2019 pukul 11.30.

Video Kucing Diseret Motor di Pekalongan Mengundang Kemarahan

Lewat Instagram Stories, Diefie menceritakan kronologi sampai ia bisa merekam kejadian itu.

"Posisi saya, sedang berkendara naik motor untuk mencari kucing saya bernama MIU bersama ibu saya, tiba-tiba saya melihat 2 manusia laknat itu berkendara dan menyeret pus."

"Saya sempat meneriakin mereka 'menungso ora ndue ati'/'manusia tidak punya hati', namun saya tidak berani untuk mengejarnya. Saya lihat kucing itu, badan sudah gemeteran sama nangis, niatnya saya video itu mau saya video sampai ke depan gitu, tapi lihat kucingnya, udah bener-bener nggak tega dan saya belok dan tidak mengikuti mereka. Menyesal, iya, saya menyesal. Takut juga iya, saya takut."

"Maafkan saya, yang saya takutkan adalah kebenaran jika itu bener-bener MIU kucingku...."

kekerasan pada hewan kucing disiksa kucing diseret motor

Akun Twitter @ichafredie mengatakan, ia sebenarnya tak tega menyebarkan video yang berisi adegan menyeramkan tersebut. Namun, menurutnya menyebarkan video itu dapat menjadi bukti yang memberatkan dua pelaku penganiayaan hewan.

Video Kucing Diseret Motor di Pekalongan Mengundang Kemarahan

Setelah video itu viral, warganet sempat menghujat si perekam yang dianggap tidak melakukan apa-apa. Mereka juga menganggap protes terhadap kekerasan pada kucing ini berlebihan.

Video Kucing Diseret Motor di Pekalongan Mengundang Kemarahan

Hingga 11 Februari 2019 siang, telah dibawa ke jalur hukum. Aktivis perlindungan satwa Doni Hendaru Tona yang juga pendiri organisasi Animal Defender melaporkan peristiwa ini ke Polsek Wiradesa, Pekalongan. Salah seorang pelaku telah ditahan polisi.

Kekerasan pada Hewan: Menyiksa hewan bisa masuk penjara

Manusia dengan hati nurani tak akan tega menyiksa hewan dengan tujuan bersenang-senang atau tanpa tujuan sama sekali. Namun, ternyata ada orang-orang yang merasa menyiksa hewan adalah perbuatan wajar.

BACA JUGA: Satpam Viral Ini Adalah Marie Kondonya Indonesia

Pada 2017, misalnya, seorang pemilik anjing tega meninggalkan anjingnya selama 8 jam dalam mobil yang diparkir di mal Grand Indonesia, Jakarta. Lalu pada 2014, seorang pria menembak sembilan ekor kucing di Yogyakarta karena menganggap kucing hewan liar.

Tindakan lebih sadis dilakukan di Bogor tahun lalu. Seseorang menemukan seekot kucing hamil dalam kondisi dua kupingnya berdarah karena dipotong, perut mengalami luka bakar karena disiram air panas, dan empat puting susunya dipotong.

Kekerasan pada hewan bisa ditindak secara hukum. Diatur dalam KUHP Pasal 302, pelaku kekerasan ringan pada binatang umum (bukan satwa langka) diancam pidana 3 bulan penjara. Sementara, kekerasan yang membuat hewan sakit lebih dari seminggu, luka berat, cacat, atau bahkan kematian, pelakunya akan diganjar maksimal 9 bulan penjara.

Perbuatan kekerasan ringan pada hewan dibuktikan lewat aspek-aspek berikut:

  1. orang itu sengaja menyakiti, melukai, atau merusakkan kesehatan binatang;
  2. perbuatan itu dilakukan tidak dengan maksud yang patut atau melewati batas yang diizinkan;
  3. sengaja tidak memberi makan atau minum kepada binatang;
  4. binatang itu sama sekali atau sebagian menjadi kepunyaan orang itu atau di dalam penjagaannya atau harus dipeliharanya;
  5. perbuatan itu dilakukan tidak dengan maksud yang patut atau melewati batas yang diizinkan.

Apakah suka menyiksa hewan adalah tanda-tanda psikopat?

Dalam artikel "The Psychology of Animal Torture", psikolog Mark D. Griffiths, Ph.D. menjelaskan apa yang bisa diartikan dari perilaku suka menyiksa hewan.

Kekerasan dan penyiksaan pada hewan yang disengaja (intentional animal torture and cruelty, IATC) terbagi dalam sejumlah tipe, dilihat dari alasan si pelaku, yakni:

  1. Ditujukan untuk ritual pengorbanan dalam agama.
  2. Membunuh hewan untuk kepentingan seni (misal, saat syuting film).
  3. Karena pelakunya memiliki kelainan psikologis (seperti kelainan kepribadian antisosial/psikopatik yang terhubung dengan kecenderungan melakukan zoosadism.
  4. Pelakunya memiliki kelainan seksual parafilik (paraphillic), semisal senang meremukkan hewan-hewan kecil demi kenikmatan seksual.
  5. Griffith mengutip bahwa ada sejumlah penelitian yang mendapati, kekerasan hewan kadang sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menekan, mengontrol, dan mengintimidasi perempuan dan/atau anak-anak di rumah.

Pada tahun 1970-an, biro investigasi federal Amerika Serikat, FBI, memulai studi perilaku kepada para pembunuh berantai dan para pemerkosa. Salah satu temuan mereka, rata-rata dari kriminal tersebut sewaktu kecil memiliki kebiasaan melakukan kekerasan pada hewan secara sengaja.

Sumber: Hukum Online, Detik, Detik, Tirto, Tempo, Psychology Today

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

img
Penulis

Redaksi