Kecanduan Cinta ala Limerence: Cinta, Deritanya Tiada Akhir

Kecanduan Cinta ala Limerence: Cinta, Deritanya Tiada Akhir

Limerence membuat mencintai jadi melelahkan dan tidak sehat.

Jatuh cinta membuat seseorang terus memikirkan seseorang. Bukan hal aneh ketika jatuh cinta membuat kita mengulik segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan orang yang kita cinta. Jatuh cinta kadang sulit dibedakan dengan obsesi cinta yang tidak sehat.

Namun, ketika obsesi itu berlangsung puluhan tahun, itu bukan tanda kesetiaan atau sinyal postif bagi kehidupan cinta.

Situasi tersebut bisa jadi adalah sejenis "penyakit cinta".

Penyakit cinta bernama limerence

Albert Wakin dan Duyen B. Vo, penulis makalah Love Variant: The Wakin-Vo I.D.R. Model of Limerence menyebut situasi tersebut sebagai "limerence". Dan ini bukan sesuatu yang bagus.

"Limerence adalah gabungan obsesif kompulsif dan candu atas kehadiran orang lain. Persoalan ini sangat menarik karena limerence bukan sekadar 'kecanduan cinta' atau 'kecanduan seks'. Limerence itu keadaan ketika seseorang 'kecanduan orang lain'."

Kondisi limerence kali pertama diajukan oleh Dorothy Tennov dalam buku Love and Limerence: The Experience of Being in Love, terbit 1979.

Wakin menjelaskan, dalam definisi yang dibuat Tennov, limerence adalah perwujudan dari cinta, emosi, dan perasaan terikat pada orang lain yang biasanya muncul ketika orang jatuh cinta.

Tennov yakin, obsesi limerence ini akan mereda setelah masa jatuh cinta selesai. Dari situasi yang terobsesi, pelan-pelan orang akan menjalani hubungan secara normal dan sehat.

Dengan begitu, bagi Tennov, limerence cuma tahap pertama dari hubungan cinta.

Setelah Tennov meninggal, Albert Wakin meneruskan riset mengenai limerence ini dan menemukan kenyataan berbeda. Limerence rupanya lebih gawat dari sekadar "tahap awal hubungan cinta".

"Kami menemukan bahwa limerence adalah salah satu jenis, dan masalah, cinta. Sebab, orang yang mengidap limerence menghabiskan 95% waktu mereka untuk memikirkan dan mengurusi orang yang mereka cinta," jelas Wakin.

Ketika kamu jatuh cinta, masih Wakin, pertama-tama kamu akan mengalami masa ketika kamu suka menduga-duga dan penuh euforia. Setelah beberapa bulan, tensinya makin turun dan hubungan jadi biasa.

Tapi, pada orang yang mengalami limerence, semakin lama hubungan berjalan, perasaan tersebut justru makin kuat. Kebutuhan untuk mendapat balasan juga tambah besar dan tak terpuaskan. Bahkan perhatian dari orang yang kamu cintai pun tak cukup memuaskannya.

"Orang-orang yang mengalami limerence bilang kepada saya, selama berpuluh tahun mereka tidak bisa menyingkirkan orang lain yang mereka obsesikan dari kepala mereka. Sifat obsesif kompulsif mereka memang sudah mendingan, tapi mereka terus saja memikirkan orang yang mereka suka itu tiap hari selama berpuluh tahun."

"Ini namanya 'kecanduan orang lain'. Kecanduan ini jadi bersifat pemaksaan. Kalau orang kecanduan alkohol, orang itu nggak akan peduli alkoholnya tersedia atau tidak ketika mereka ingin minum. Mereka juga nggak khawatir kalau mereka kelak kecanduan hal lain dan nggak pengin minum alkohol lagi. Tapi, pada orang yang 'kecanduan orang', semua itu jadi kekhawatiran mereka."

Lebih gawat pada orang dengan cinta tak berbalas

Masalah lain, limerence nggak cuma dialami seseorang yang punya kekasih. Orang yang cintanya tak berbalas juga mengalami. Jenis yang kedua ini bahkan lebih potensial menderita selama bertahun-tahun karena tidak menerima balasan cinta. Semua itu bisa berlangsung bertahun-tahun.

"Perasaan seperti itu ditemukan dalam kasus-kasus yang kami dalami bertahun-tahun. Kami sering dengar orang ngomong, 'Aku sudah move on, sudah ketemu orang lain, menikah, punya anak. Tapi, aku tetap memikirkan orang itu (yang dia obsesikan) dan berharap dia kembali ke hidupku suatu saat nanti,'" terang Wakin.

Ciri-ciri limerence

Wakin yang mengklaim telah meneliti ratusan kasus limerence bilang, ada sejumlah efek langsung dan tidak langsung dari limerence yang bisa ia simpulkan.

Kamu bisa disebut mengalami limerence ketika urusan cinta dan obsesimu itu memengaruhi keputusan-keputusan besar dalam hidupmu.

Beberapa efek langsung limerence adalah

  • merasakan sakit fisik, terutama di dada
  • terus-terusan merindukan orang yang diobsesikan
  • panik
  • terus-terusan memikirkan orang yang diobsesikan
  • benar-benar menjaga terus tahu dan berhubungan dengan orang yang diobsesikan. Misalnya dengan melakukan kontak terus-menerus, mengharapkan balasan yang sama, memikirkan dirinya, dan melatih apa yang harus dilakukan atau dikatakan ketika bertemu dengannya.

Lalu apa efek tidak langsungnya?

Orang yang mengalami limerence jadi tidak peduli dengan kesehatan dirinya sendiri, juga menarik diri dari kehidupan sosial, dari sahabat, dan dari keluarga.

"Kamu bisa disebut mengalami limerence ketika urusan cinta dan obsesimu itu memengaruhi keputusan-keputusan besar dalam hidupmu. Debar jantung meningkat saat berdekatan, dan tubuhmu menginginkan untuk terus dekat dengannya," ujar Melanie Schilling, psikolog dan pendiri TheDATEready Project.

Kecanduan cinta beda dari limerence

Schilling bilang, limerence beda dari kecanduan cinta. Pada pengidap kecanduan cinta, yang mereka inginkan adalah merasakan terus sensasi ketika jatuh cinta. Jadi, mereka mengulang terus limerence mereka (yang dijumpai pada tahap awal jatuh cinta) tanpa peduli siapa partnernya.

Kita tahu, jatuh cinta dan pedekate punya sensasi hebat. Seperti rasa debar menyenangkan dan sebagainya. Buat orang yang kecanduan cinta, yang penting rasanya, bodo amat dengan siapa.

Sebaliknya, buat orang yang mengalami limerence atau "kecanduan orang", yang penting adalah orangnya. Pernah nonton Posesif atau He Loves Me... He Loves Me Not? Nah, itu dia contohnya. Keterikatan secara membabi buta sekaligus tulus pada satu orang dalam waktu lama, tidak peduli meski sudah ditolak atau obsesi itu menjadi abusif.

Wakin meringkas perbedaan kedua jenis cinta itu seperti ini:

kecanduan cinta itu kebutuhan pada perasaan tertentu. Kecanduan orang itu kebutuhan atas orang tertentu.

Tidak ada bukti valid bahwa pengidap OCD lebih potensial mengidap limerence. Juga belum ada cukup penelitian, apa sih penyebab limerence. Sejauh yang Wakin bisa tangkap, penyebabnya dua hal ini.

  • Chemistry

Ketika seseorang terobsesi pada satu kualitas (misal: suka pada orang cerdas), kemudian ia ketemu dengan orang yang sesuai kriterianya, itu bisa menyulut limerence.

  • Perasaan yang tak berbalas

Seseorang punya hubungan yang normal awalnya. Suatu ketika, trauma lamanya yang kekurangan kasih sayang saat kanak-kanak terpantik karena satu dan lain hal. Itu juga bisa memicu limerence.

Menurut Wakin, mereka masih butuh meneliti bagaimana mengatasi limerence. Sejauh ini pengobatan yang mungkin hanyalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapi, CBT). Teknisnya, psikolog membantu mengatur pola pikir pasien yang tidak terstruktur.

Sebagaimana orang dengan OCD, mengalami limerence bisa jadi sangat melelahkan, tanpa dia bisa melepaskan dirinya sendiri. Kalau ketemu jenis begini, bantu dia untuk lebih sehat, ya.

Disadur dari artikel Jenny Haward di Huffington Post Australia