Surat Malala Yousafzai: #10YearChallenge Malala

Surat Malala Yousafzai: #10YearChallenge Malala

"Aku menengok sepuluh tahun terakhir dengan rasa syukur sekaligus kemarahan."

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai ikut meramaikan #10YearChallenge atau tantangan 10 tahun dengan menulis sebuah surat menggugah. Tulisan ini diterjemahkan dari tulisan Malala Yousafzai di situs web assembly.malala.org berjudul “Malala’s #10YearChallenge“.

LI malala-yousafzai-10yearschallenge

Malala Yousafzai dalam 10 tahun: kiri 2009, kanan 2019.

Surat Malala Yousafzai

#10YearChallenge Malala

oleh Malala Yousafzai

Seperti kebanyakan kalian, minggu lalu aku ikut meramaikan #10YearChallenge di Instagram. Aku melihat banyak foto lucu masa kecil teman-temanku maupun foto para selebritas sebelum mereka terkenal. Dengan menggunakan tagar itu, lebih dari 4 juta orang membagikan postingan mereka untuk merayakan hidup, tumbuh dewasa, menua, dan makin kuat.

Semua postingan itu memanggil kenanganku dari 10 tahun yang lalu, ketika aku berumur 11 tahun.

Satu suara menyeramkan terdengar dari radio, menggema di seluruh lembah. “Mulai 15 Januari, anak-anak perempuan tidak boleh sekolah lagi,” ucap Mullah Shah Doran, pemimpin Taliban setempat. “Menyekolahkan anak perempuan bukan ajaran Islam.”

Damai sudah lama hilang dari tempat tinggal kami. Kami hidup di bawah terorisme dan kekerasan. Tembakan dan ledakan adalah jam beker sehari-hari kami. Berita tentang dua atau tiga orang yang terbunuh di Green Square bukanlah berita lagi–orang-orang lalu menyebut tempat itu Green Square berdarah. Lembah ini tidak seperti tempat tinggalku dua tahun lalu; segala sesuatu berubah sangat cepat.

Dan sekarang anak perempuan tidak boleh sekolah.

Sebagai anak 11 tahun, aku khawatir dengan masa depan dan kebebasanku. Apa yang aku mau adalah memakai kerudungku yang berbekas tinta itu, melintasi jalan-jalan, duduk di kursi kayu tua dalam ruangan yang dindingnya retak-retak, memegang pulpenku, dan membuka buku.

Aku ingin membaca dan menulis dan bertanya dan belajar.

Bapak dan aku melawan. Kami tahu perubahan tidak mungkin terjadi kalau tidak ada yang melantangkan suara dan menyatakan penolakan pada larangan itu.

Waktu itu aku menulis diari yang kemudian dimuat oleh BBC secara rutin. Membaca bagian-bagian diari itu sekarang, 10 tahun setelah ditulis, aku mendengar banyak hal dalam suara anak perempuan itu–keraguan, kenang-kenangan, harapan, dan kewaspadaan. Perasaan-perasaan itu juga aku dengar dari suara banyak anak perempuan lain yang aku temui di seluruh dunia, di sekolah, di jalan, di barak pengungsian.

“Ada anak-anak perempuan yang percaya sekolah bakal dibuka lagi di bulan Februari, tapi anak-anak perempuan yang lain bilang, orang tua mereka memilih pindah dari Swat ke kota lain demi pendidikan mereka.

“Oleh karena hari ini hari terakhir bersekolah, kami sepakat untuk bermain di halaman sekolah lebih lama. Aku termasuk anak yang percaya sekolah akan buka lagi–tapi saat pulang, aku memandang bangunan sekolah seolah-olah aku tidak akan pernah ke sana lagi.”

Tanggal 14 Januari 2009 adalah hari sekolah terakhir di Lembah Swat. Tanggal 14 Januari 2019 adalah hari pertama semester keduaku di Universitas Oxford.

Aku tahu aku sudah mengalami banyak hal dan aku senang bisa menceritakan kisah kemenangan. Tapi aku juga tahu, masih ada 130 juta anak perempuan yang berada di situasi yang sama seperti aku sepuluh tahun lalu. Jutaan anak perempuan duduk di rumahnya sambil mengkhawatirkan masa depan dan kebebasan mereka.

Aku menengok sepuluh tahun terakhir dengan rasa syukur sekaligus kemarahan. Kenapa ada banyak sekali anak perempuan–anak perempuan di mana saja–yang tidak bisa sekolah?

Nobel Peace Prize laureate Malala Yousafzai receives the medal and the diploma during the Nobel Peace Prize awards ceremony at the City Hall in Oslo

Malala Yousafzai menerima sertifikat dan medali Nobel Perdamaian di acara penghargaan Hadiah Nobel Perdamaian di Balai Kota Oslo, Norwegia, 10 Desember 2014. Malala Yousafzai ditembak di kepala oleh tentara Taliban pada 2012 karena memperjuangkan hak anak perempuan untuk bersekolah. Ia memenangkan hadiah ini bersamaan dengan aktivis India penentang perdagangan anak Kailash Satyarthi. (Sumber: REUTERS/Suzanne Plunkett)

Intinya seperti ini: Saat pemimpin-pemimpin sedang memikirkan masalah-masalah dunia, 130 juta anak perempuan yang putus sekolah tidak ada di urutan pertama daftar mereka. Mereka peduli soal ekonomi, pergeseran pusat kekuatan, konflik, dan dinamika geopolitik. Tidak usah pikirkan kalau anak-anak perempuan yang terdidik sebenarnya bisa menyelesaikan sebagian besar masalah itu. Para pemimpin itu berfokus pada hari ini, bukan hari besok.

Aku bekerja setiap hari agar saudari-saudariku bisa sekolah. Aku ingin semua anak perempuan bisa mendapat pendidikan yang aman, bebas, dan bermutu minimal selama 12 tahun. Aku ingin mereka mengejar mimpi dan berperan mewujudkan dunia yang lebih baik untuk kita. Tapi, aku tidak bisa melakukan ini sendiri.

Jika kamu tergugah oleh kisahku, aku berharap kamu bergabung bersamaku dalam perjuangan untuk pendidikan anak perempuan ini.

Sepuluh tahun lagi akan seperti apa? Tergantung usaha kita.

BACA JUGAWow! Menteri Susi Pudjiastuti Masuk Daftar 100 Pemikir Terbaik Dunia

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Redaksi