Alicia Keys Bicara Soal Keminderannya Menjadi Wanita di Industri Showbiz

Alicia Keys Bicara Soal Keminderannya Menjadi Wanita di Industri Showbiz

"Aku berdoa kepada Tuhan semoga ini menjadi revolusi."

Alicia Keys menulis sebuah esai personal yang begitu menyentuh sekaligus menguatkan pada 2016 setelah ia memutuskan untuk berani muncul di depan publik dengan #NoMakeup. Sebuah kisah bagaimana tindakan yang seolah kecil (“Ini kan cuma soal makeup!”) berdampak besar pada diri Alicia dan orang-orang yang merasakan perjuangannya.   

Esai ini diterjemahkan dari “Alicia Keys: Time to Uncover” yang dimuat di Lenny Letter.

Alicia Keys: Waktunya untuk Buka-bukaan

31 Mei 2016

Kita semua akan sampai pada satu titik dalam hidup (terutama bagi para cewek) ketika kita ingin menjadi sempurna.

Apakah itu terjadi di suatu tempat saat kelas 2 SD, sehari setelah hari pengambilan foto yang waktu itu kau membiarkan rambut keriting tebalmu tergerai karena kata Mama kau cantik seperti itu, tetapi semua “teman”-mu malah tertawa?

Kau mengambil sisir dan jel rambut dan mengucir rambut keriting mengembangmu menjadi cepol yang sebisa mungkin tampak kecil—menyembunyikan kepingan dirimu-yang-sebenarnya demi bisa pas dalam gambaran orang lain tentang apa itu sempurna.

Ya, momen kayak gitu.

alicia keys #nomakeup

Alicia Keys, #NoMakeup, dan problem menjadi wanita di industri showbiz.

Atau gimana pas SMP? Waktu semua cewek “cakep” memakai lipstik dan eyeliner dan maskara. Beberapa di antara mereka ada yang jago banget dandan sampai-sampai terlihat seperti model di majalah-majalah yang pernah kau baca—majalah-majalah yang membuatmu langsung merasa nggak nyaman dengan dirimu sendiri atau merasa tak terwakili atau sekadar tidak dipandang.

Membaca majalah adalah satu momen lain ketika sebagian dirimu menyadari, agar bisa menjadi atau dianggap cantik, kau harus menutupi dirimu sendiri demi semakin dekat dengan kesempurnaan.

Ya, ini juga momen yang sama.

Percaya deh, masalah-masalah itu nggak selesai pas SMP saja. Aku ingat ketika pertama kali muncul di depan publik. Yawla! Semua orang kayak pengin komentar. “Dia keras banget, kelakuannya kayak cowok, dia pasti lesbi, dia mestinya lebih feminin!” Tapi semua yang mereka bilang itu ada di diriku karena aku dari New York dan semua orang yang aku kenal memang kelakuannya kayak gitu.

Di jalanan New York kamu harus tangguh, kamu HARUS keras, orang mau kamu nggak segan-segan berantem!

BACA JUGA: Surat Malala Yousafzai: #10YearChallenge Malala

Tapi, tempat ini bukan jalanan New York. Tempat ini adalah dunia hiburan yang keras dan penuh penghakiman, dan tes terbesarku belum dimulai. Aku mulai, lebih dari sebelum-sebelumnya, menjadi bunglon. Tanpa pernah bisa menjadi diriku sendiri, terus-menerus berubah agar “mereka” semua bisa menerimaku.

#NoMakeup berawal dari penulisan album baru

Sebelum aku memulai menulis album baruku, aku membuat daftar semua hal yang bikin aku muak. Salah satunya ialah betapa seringnya perempuan dicuci otak untuk merasa mereka harus kurus, atau seksi, atau diinginkan, atau sempurna. Satu dari banyak hal yang membuatku lelah adalah penilaian terus-menerus kepada perempuan. Stereotip terus dibuat lewat segala macam cara agar kita merasa size normal itu nggak normal, apalagi kalau sampai punya size jumbo. Atau ide laten bahwa seksi itu mesti telanjang.

Semua itu bikin frustrasi dan mustahil diwujudkan.

Aku menyadari, sepanjang proses pembuatan album, aku menulis banyak lagu tentang topeng yang berisi metafora-metafora mengenai “bersembunyi”.

Aku butuh lagu-lagu itu karena aku sangat merasakan kecemasan itu.

Aku akhirnya buka-bukaan tentang betapa banyaknya aku menyensor diriku sendiri, dan itu membuatku takut. Aku ini siapa? Apa aku masih ingat bagaimana CARA untuk jujur? Aku ingin jadi orang yang seperti apa?

Aku nggak tahu jawaban pastinya, meskipun aku sangat menginginkannya.

Di satu lagu yang kutulis berjudul “When a Girl Can’t Be Herself”, aku bilang,

In the morning from the minute that I wake up / What if I don’t want to put on all that makeup / Who says I must conceal what I’m made of / Maybe all this Maybelline is covering my self-esteem

Tanpa bermaksud tidak menghormati Maybelline, nama merek ini cuma ampuh sampai kata maybe. Tapi kenyataannya… aku mulai merasa seperti di lirik itu—merasa diriku yang sebenarnya tidak cukup baik untuk dilihat dunia.

Perasaan ini mulai berefek ke mana-mana, dan sama sekali tidak sehat.

Setiap aku keluar rumah, aku merasa khawatir jika tidak memakai makeup: Gimana kalau ada yang minta foto?? Gimana kalau mereka MEMPOSTINGNYA??? Pikiran-pikiran itu mencemaskan, dibuat-buat, tetapi jujur ada di kepalaku. Dan semua itu, lewat satu dan lain cara, sangat didasari oleh apa yang orang lain pikirkan tentang aku.

alicia keys #nomakeup

Alicia Keys, #NoMakeup, dan problem menjadi wanita di industri showbiz.

Aku menemukan cara bermeditasi, dan mulai berkonsentrasi untuk mengenali diri lebih terang dan dalam. Aku berkonsentrasi untuk menumbuhkan kekuatan dan keyakinan dan berlatih mempelajari diriku yang sebenarnya.

Dan aku berjanji akan memandang segala sesuatu secara berbeda kali ini sesuai dengan kepribadianku dan membiarkan diriku yang asli, apa adanya, untuk lepas.

Waktu berlalu setelah aku menulis “When a Girl Can’t Be Herself,” dan aku tidak memikirkan lagu itu lagi. Kayaknya aku sibuk dan terlalu fokus membuat lagu alih-alih merenungkannya secara khusus.

Sampai kemudian renungan itu datang lagi ketika aku mau melakukan sesi pemotretan pertama untuk album baruku. Aku baru pulang dari tempat olahraga, memakai scarf di bawah topi baseball-ku, dan si fotografer cantik Paola (nggak ada bagian dirinya yang nggak kusukai) bilang, “Aku harus memfotomu sekarang, kayak gini! Musikmu kan sangat telanjang dan nyata, foto-fotomu juga harus gitu!”

Aku kaget. Tiba-tiba aku jadi agak grogi dan nggak nyaman. Mukaku benar-benar polos. Dan kausku basah keringat! Sejauh yang aku tahu, ini kan aku sedang lari-biar-sempat-dandan-sebelum-pemotretan, bukan pemotretan itu sendiri. Jadi aku tanya dia, “Sekarang?! Benar-benar sekarang? Aku mau kelihatan ‘asli’, tapi ini terlalu ‘asli’!!”

Dan cuma sampai situ. Dia mulai memotretku.

Cuma ada latar putih, aku, dan fotografer yang berinteraksi dengan akrab; aku dan topi baseball dan scarf dan segenggam keajaiban. Dan sumpah, itulah sensasi cantik pertama yang paling hebat, paling menguatkan, paling bebas, dan paling jujur yang pernah aku rasakan.

Aku merasa kuat karena niat awalku yang membawaku ke momen itu. Hasratku untuk mendengarkan diri sendiri, untuk meruntuhkan dinding yang aku bangun bertahun-tahun, untuk menjadi orang yang berguna, untuk menjadi diriku sendiri! Semesta mendengar apa-apa yang aku janjikan ke diriku, atau mungkin, aku yang akhirnya berhasil mendengar semesta, tapi apa pun itu, begitulah awalnya kenapa aku memulai #NoMakeup. Saat foto yang diambil Paola dijadikan artwork untuk lagu baruku “In Common,” kejujuran juga menguar dari orang-orang yang ikut memosting selfie #NoMakeup mereka sebagai tanggapan atas diriku yang nyata dan telanjang ini.

Aku berdoa kepada Tuhan semoga ini menjadi revolusi.

Sebab, aku nggak mau menutup diriku lagi. Tidak mukaku, tidak pikiranku, tidak jiwaku, tidak pendapatku, tidak mimpiku, tidak perjuanganku, tidak perkembangan emosiku. Tidak untuk semuanya.***

Catatan redaksi Lenny Letter: Alicia Keys adalah penyanyi, penulis lagu, dan produser musik pemenang 15 Grammy Awards. Ia juga seorang aktris, penulis buku best seller menurut New York Times, pengusaha, dan satu kekuatan di dunia aktivisme.

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!