Berapa Usia yang Tepat untuk Mulai Berhubungan Seks?

lead image

Penelitian terbaru tentang dampak psikologi wanita saat kehilangan keperawanannya.

Apakah ada waktu yang tepat untuk menentukan kapan pertama kali berhubungan intim?

Terlepas dari kontroversi seputar hubungan seks yang dilakukan untuk pertama kali, kebanyakan anak muda di Amerika Serikat menjadi aktif secara seksual jauh sebelum mereka dewasa. Menurut sebuah studi tahun 2012 yang mengamati peserta dalam National Longitudinal Study of Adolescent Health, pertama kali berhubungan intim diklasifikasikan sebagai "terlalu awal" jika itu terjadi sebelum usia 15, "normatif" jika terjadi antara 15 dan 19 tahun, dan "terlambat" jika itu terjadi setelah usia 19 tahun.

Tetapi apakah perbedaan usia pertama kali berhubungan intim ini berpengaruh pada masalah atau manfaat yang terjadi di kemudian hari? Sebuah studi jangka panjang terbaru, yang dilaporkan dalam terbitan Developmental Psychology bulan ini, menyoroti risiko dan dampak dari induksi seksual selama masa remaja dan sesudahnya.

Dampak Dari Anak Muda Yang Pertama Kali Berhubungan Intim

Penting untuk mempertimbangkan pengalaman seksual pertama seseorang dalam membangun hubungan seksual yang normal dan menjadikannya pasangan romantis, bahwa risiko potensial seperti kehamilan dan penyakit menular seksual harus diakui.

Penelitian ini secara konsisten menunjukkan bahwa remaja yang pertama kali berhubungan intim sebelum usia 15 cenderung menggunakan kontrasepsi dibandingkan mereka yang masuk dalam kategori 'normatif' atau 'terlambat'. Mereka juga lebih cenderung memiliki riwayat penyalahgunaan zat psikotropika dan masalah emosional.

Dalam hal perbedaan gender, laki-laki yang pemula cenderung lebih agresif dan rentan terhadap perilaku antisosial. Sebaliknya, wanita yang mulai lebih awal pertama kali berhubungan intim, lebih rentan mengalami depresi, meskipun perbedaannya dapat berubah seiring waktu.

Laki-laki yang memulai lebih awal juga lebih cenderung mengalami lebih sedikit rasa malu dan bersalah daripada perempuan, meskipun kebanyakan keduanya memandang seks pertama kali sebagai pengalaman positif.

Masalah dari penelitian tentang kapan pertama kali berhubungan intim ini adalah, bahwa studi-studi ini biasanya merupakan cross-sectional, snapshot satu kali yang tidak menawarkan cara untuk menentukan bagaimana seksualitas awal atau lambat dapat memengaruhi perkembangan selanjutnya.

Misalnya, mengenai hubungan antara pemula dan penyalahgunaan narkoba, apakah penggunaan narkoba membuat remaja lebih cenderung bereksperimen dengan seks lebih awal, atau apakah debut seksual dini nantinya membuat mereka lebih cenderung untuk menyalahgunakan narkoba atau alkohol?

Juga, sebagian besar penelitian ini biasanya berfokus pada permulaan awal dan dampak buruk yang mungkin akan mereka hadapi. Tetapi bagaimana dengan kelompok normatif dan terlambat memulai? Bagaimana mereka dibandingkan dengan yang melakukan lebih awal?

Meskipun pada penelitian tentang seksualitas orang dewasa lebih mengidentifikasi berbagai manfaat psikologis, termasuk menghilangkan stres, kesehatan yang baik, dan mortalitas yang lebih rendah, memperluas penelitian semacam ini kepada remaja seringkali jadi kontroversial.

Dampak Pertama Kali Berhubungan Intim

Penelitian Jangka Panjang Tentang Dampak Pertama Kali Berhubungan Intim

Studi baru, yang diterbitkan dalam Developmental Psychology, lebih dekat melihat pada aspek positif dan negatif tentang pertama kali berhubungan intim pada remaja. Rachel Lynn Golden dari University of Denver dan rekan penelitiannya menganalisis pengalaman 200 siswa kelas sepuluh yang dipilih dengan cermat untuk memastikan bahwa distribusi ras dan etnis mereka sesuai dengan yang ada di Amerika Serikat. Mereka dinilai pada tujuh "gelombang," setidaknya satu tahun terpisah (atau 18 bulan untuk gelombang selanjutnya).

Bersamaan dengan tes standar yang mengukur penggunaan narkoba, harga diri, dan status kesehatan mental, semua peserta mengisi kuesioner tentang riwayat kencan mereka, perilaku seksual, kepuasan kencan, dan kepuasan seksual. Peserta yang sudah aktif secara seksual oleh Wave One ditanyai tentang kapan debut seksual mereka terjadi.

Untuk memberikan tanggapan yang lebih objektif. Ibu dari masing-masing peserta, dan seorang teman dekat masing-masing peserta diminta untuk mengevaluasi peserta pada kompetensi psikososial, penyalahgunaan zat, dan daya tarik romantis. (Peserta yang keluar dari penelitian sebelum debut seksual mereka, atau yang masih belum aktif secara seksual oleh Wave Seven dikeluarkan dari analisis.)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa debut seksual dini cenderung dikaitkan dengan risiko lebih tinggi pada gejala internalisasi (depresi dan kesepian), gejala eksternalisasi (agresi, perilaku antisosial), penyalahgunaan narkoba, dan harga diri yang buruk.

Debut seksual sebelumnya juga dikaitkan dengan manfaat positif. Termasuk daya tarik romantis yang lebih besar, kepuasan seksual (untuk pria), dan kepuasan kencan (untuk pria).

Untuk wanita, tampaknya ada sedikit perbedaan dalam kepuasan seksual dan kencan.

Keuntungan dari studi longitudinal adalah memungkinkan peneliti untuk mengikuti peserta selama bertahun-tahun untuk melihat perubahan yang terjadi. Meskipun hasil penelitian ini sesuai dengan apa yang telah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya.

Hubungan antara debut awal dan perilaku internalisasi dan eksternalisasi. Perbedaan antara remaja awal, normatif, dan akhir debut sebagian besar menghilang pada saat gelombang terakhir. Setidaknya lima atau enam tahun ke belakang.

Sumber: Psychology Today

Baca juga:

Perempuan Ini Bagikan Pengalaman Pertama Oral Seks: Bikin Ketagihan!

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Kiki Pea