Tukang Potong Rambut Paling Baik di Dunia

Tukang Potong Rambut Paling Baik di Dunia

Ini kisah tentang tangan dan gunting. Ini juga kisah tentang usaha menjadi manusia.

Ketika Mark Bustos dan Joshua Coombes memberi servis potong rambut gratis untuk tunawisma, cerita seputar hairstyling tak lagi sesempit soal model cukuran atau warna rambut paling hype. Memotong rambut manusia adalah cerita tentang manusia.

Mark Bustos

Mark Bustos mempelajari teknik potong rambut secara otodidak di usia 14 tahun ketika ia membuka "salon" dadakan di garasi rumah orang tuanya di New Jersey, Amerika Serikat.

Awalnya untuk membantu teman yang butuh dipangkas gratis--sehingga mereka bisa menyimpan uang untuk potong rambut yang diberikan orang tua mereka.

Empat belas tahun kemudian, ia adalah hairdresser di Three Squares Studios. Salon elite di New York, kata New York Times. Dan di sana, ia melayani pelanggan seperti penyanyi jaz Norah Jones dan desainer terkemuka Marc Jacobs dan Philip Lim, dengan tarif 150 dolar AS sekali cukur. Sekitar 2 juta rupiah dengan kurs sekarang.

Di usia 28 tahun, Bustos yang berdarah Filipina namun dewasa di Amerika serikat pulang kampung untuk menengok keluarga. Di Filipina ia mendapat pengalaman baru. Menemukan orang-orang yang butuh potong rambut, tapi tak mampu membayarnya.

Itulah kali pertama ia memutuskan memberi jasa potong rambut secara cuma-cuma kepada orang tidak mampu.

Kembali ke New York, Bustos tidak berhenti. Di hari kerja ia memotong rambut di salon rambut Three Squares Studios. Di akhir pekan, setiap Minggu, ia memberi potong rambut untuk gelandangan di jalan.

“Kesalahpahaman terbesar tentang orang yang hidup di jalanan adalah anggapan bahwa mereka bukan manusia. Aku merasa mereka dianggap bukan manusia. Orang-orang melewati mereka dan cuek saja. Orang pikir orang di jalanan itu pencandu narkoba lah, tukang minum lah, atau bukan siapa-siapa yang nggak punya kehidupan,” kata Bustos di satu video.

“Tapi, orang di jalanan itu hidup,” tambah Bustos, “Mereka kayak kita, hanya saja mereka ada di situasi yang tidak beruntung sehingga mereka harus menjalani hidup seperti itu.”

“Ketika aku potong rambut orang, aku mengajak mereka ngobrol seperti ngobrol dengan teman. Nggak peduli pas di salon maupun saat di jalanan.”

Suatu kali ia bertemu lelaki tunawisma bernama Marcus.

“Marcus, kapan terakhir kali kamu potong rambut?”

“Ya, ampun, sekitar 1993 atau 1994.”

Wawancara itu terjadi tahun 2015. Artinya, sudah 10 atau 11 tahun.

Joshua Coombes

Di London, Inggris, Joshua Coombes punya kepercayaan yang sama dengan Bustos, dan ia melakukan hal yang sama pula.

Coombes yakin, ada banyak sekali masalah di dunia ini, dan masing-masing masalah itu begitu ribet untuk diselesaikan. Jadi, ya sudah, ia melakukan apa yang ia bisa saja. Memberi potong rambut gratis. Alasannya sesimpel: nggak semua orang punya duit buat potong rambut. Terutama untuk tunawisma.

Kamu mungkin pernah merasa, rambut yang ditata dengan baik memberikan kepercayaan diri. Bahkan, bagaimana rambutmu ditata bisa membentuk cara orang memandangmu.

Jika kita di jalan dan menemukan orang dengan pakaian yang awut-awutan serta rambut panjang tak terawat, tidak bisa tidak akan berpikir bahwa orang itu tidak punya kehidupan yang baik.

Dengan memberi waktu 30 menit sampai 1 jam, dengan gunting dan alat pencukurnya, Coombes membuat seseorang merasa dirinya “menjadi manusia kembali”.

Program The Story of Us dari National Geographic yang dipandu aktor Morgan Freeman suatu waktu mengikuti Joshua Coombes memberi potong rambut di jalan. Jika kamu menonton videonya, kamu tidak bisa mengabaikan ekspresi terharu yang ditampilkan orang yang baru dipotong rambutnya itu.

“Gimana perasaanmu?” tanya Freeman kepada lelaki itu.

“Kayak manusia baru,” jawab si lelaki.

Tidak heran jika aksi sederhana ini bisa membuat Joshua Coombes maupun Mark Bustos merasa sangat bahagia, sangat puas. “It made me feel so good,” kata Coombes.

Coombes mengampanyekan aksinya dengan tagar #DoSomethingforNothing. Ajakan untuk berbuat baik tanpa berharap pamrih. Sementara Coombes, entah ia sudah tahu atau belum, aksinya juga menginspirasi Mandy Barnes.

Mandy Barnes juga tinggal di Amerika Serikat. Setelah menonton video Bustos di YouTube, ia bersama rekan-rekannya di Rescue Ogden Mission melakukan hal yang sama. Membuka salon mereka untuk melayani orang yang tidak mampu bayar.

“Aku merasa potongan rambut membuat orang jadi percaya diri. Kepercayaan diri yang bisa mereka gunakan untuk melamar kerja atau sekadar bersenang-senang saat liburan,” kata Barnes.

Saya teringat kisah-kisah orang perkotaan yang depresi dengan tekanan kerja dan merasa kesepian. Selain berguna untuk orang lain, mungkin cara ketiga orang tadi bisa ditiru untuk memberi manfaat bagi diri sendiri. Setidaknya untuk membuat diri kita “feel so good.”