Quraish Shihab: Islam Memperbolehkan Perempuan Melamar Laki-Laki

Quraish Shihab: Islam Memperbolehkan Perempuan Melamar Laki-Laki

Memperjuangkan jodoh sangat dianjurkan dalam Islam. Berikut paparan Quraish Shihab tentang jodoh dalam Islam.

Pernikahan eks personel Cherrybelle Anisa Rahma Adi dengan pasangan duetnya, Anandito Dwis, 16 September lalu masih bikin baper bagi para pejuang hijrah. Doa minta jodoh pun tak putus-putusnya dipanjatkan tiap sehabis salat.

Walau tidak sampai disebut sebagai hari patah hati nasional, ukhti yang dulu sempat mengagumi pernikahan hafiz Al-Quran Muzammil Hasballah tentu menginginkan bisa melalui proses mendapat jodoh yang sama.

Persoalan jodoh memang tidak selalu lancar pada setiap orang. Hati ingin mendapat pasangan yang bagus perangainya dan kuat agamanya, tetapi hingga detik ini belum kunjung menemukannya.

Menurut pakar Al-Quran Quraish Shihab, jodoh manusia adalah takdir yang mana Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk berusaha. Artinya, jika kita menginginkan jodoh tertentu, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berusaha mendapatkannya walau penentunya tetaplah Yang Maha Kuasa.

Ada banyak cara untuk mengusahakan jodoh dalam ajaran Islam. Bergaul dan berkenalan dengan orang baru, membuka diri, mendekati seseorang, semua itu diperbolehkan dalam Islam, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Demi memohon ridha Allah, memanjatkan doa minta jodoh juga sangat dianjurkan.

Salah satu doa minta jodoh dalam Islam menurut Quraish Shihab adalah Surah Al-Furqaan ayat 74 yang bunyinya,

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Walladziina yaquuluuna rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lilmuttaqiina imaamaa.”

‘Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’

Selain doa yang diambil dalam Al-Quran, sifat Allah yang maha mengetahui membuat doa dalam bahasa apa pun akan diterima.

Bahkan, tambah Quraish, Allah tetap akan menerima doa yang diucapkan tanpa kata, hanya sebatas membatin. Kita semata memohon kepada Allah yang maha mengetahui, semoga ia menganugerahi apa yang kita butuhkan.

Selain doa minta jodoh, Islam memperbolehkan perempuan melamar

Islam tidak memberi batasan bahwa perempuan tidak boleh aktif menjemput jodohnya. Jika benar-benar mengharapkan pernikahan, selain memanjatkan doa minta jodoh, Islam juga memperbolehkan perempuan melamar. Quraish Shihab menyebut doa contoh perempuan hebat yang melamar laki-laki, yakni Khadijah dan Maimunah yang melamar Nabi Muhammad saw.

Namun, ketika budaya menganggap buruk perempuan yang melamar langsung, cara lain yang bisa diambil ialah dengan mengirimkan wakil untuk melamar laki-laki.

Namun, perlu diingat bahwa sekonyong-konyong melamar juga bukan hal yang baik. Sebab, pernikahan yang sakinah, mawadah, warahmah harus dilandasi ketertarikan satu sama lain. Soal ini, Quraish mengisahkan satu cerita sahabat Nabi.

Suatu kali, sahabat Rasulullah mengatakan bahwa ia ingin menikah. Rasulullah bertanya, Sudah kamu lihatkah orang yang ingin kamu nikahi?

Belum, jawab si sahabat.

Nabi lalu menyuruhnya pergi melihat perempuan yang ia maui. Alasannya, dengan melihat calon pasangannya, salah satu faktor kesinambungan perkawinan terpenuhi, yakni rasa ketertarikan kepada seseorang.

Islam menganjurkan manusia berusaha mengundang ketertarikan hati dari calon jodoh. Itulah kenapa ada 4 hal yang bisa jadi pertimbangan memilih jodoh dalam Islam, yakni faktor keturunan (kebangsawanan), harta, kecantikan/ketampanan, dan agama/akhlak.

Rasulullah berpesan bahwa dari 4 faktor itu, 3 yang pertama tidak menjamin kelanggengan pernikahan, maka utamakanlah yang keempat.

Lalu, apakah Islam memperbolehkan pacaran?

Menurut Quraish Shihab, zaman telah berkembang sehingga cara lama manakala melihat lawan jenis saja sudah cukup untuk memutuskan akan menikah, tidak lagi cukup.

Kini, orang butuh mengenali lebih dalam calon pasangannya. Caranya bisa dengan saling berbicara. Dengan demikian, pacaran, yang secara harfiah sebenarnya berarti ‘janji menikah’, diperbolehkan.

Akan tetapi, hubungan pacaran itu harus dijalankan sesuai aturan agama. Pria dan wanita yang belum menjadi mahram tidak boleh berduaan, misalnya. Jika butuh bepergian bersama, mereka perlu mengajak orang ketiga, yang bisa jadi adalah teman, orang tua, atau saudara untuk menemani.

Selain itu, ada petuah orang tua bahwa proses perkenalan atau taaruf sebaiknya tidak terlalu lama karena ada 2 risiko. Pertama, bisa datang orang lain yang mendahului. Kedua, bisa menimbulkan keraguan dalam hati. Agama tidak menentukan batas waktu taaruf harus berlangsung berapa lama, tetapi prinsipnya, kebaikan (baca: pernikahan) itu semakin cepat, semakin bagus.

Bagaimana menempatkan antara keinginan sendiri dan orang tua dalam menentukan jodoh?

Quraish Shihab menyarankan untuk mencari titik tengah antara kemauan anak dan kemauan orang tua.

Ketika jalan tengah itu tidak bisa dicapai, apa boleh buat bagi para orang tua: anaklah yang berhak menentukan jodohnya karena ia yang akan menjalani pernikahan.

Dalam situasi tersebut, orang tua bisa berkata bahwa pernikahan itu ia izinkan, tetapi tidak ia restui. Selebihnya, Tuhanlah yang akan menilai, apakah keinginan si anak bertentangan dengan agama atau tidak, dan mengandung dosa atau tidak.

Pertimbangan atas nikah muda

Quraish Shihab beranggapan bahwa usia pernikahan sebaiknya jangan terlalu muda. Paling tidak dilakukan setelah tamat SMA, lebih baik lagi jika sudah lulus universitas. Sekitar usia 24 atau 25 tahun, jelas Quraish.

Alasannya, sebab masa kini berbeda dengan masa lalu. Di masa kini, tanggung jawab dan tuntutan semakin berat. Godaan juga semakin besar.

Perkawinan bertujuan untuk membawa ketenangan pada suami istri, melahirkan anak, dan  mendidik anak. Bila suami istri belum dewasa, bagaimana pernikahan di usia muda bisa sukses jika memikul tanggung jawab rumah tangga salah satu atau keduanya belum mampu?

Di sisi lain, Islam memandang bahwa lebih baik menikah di usia yang terlambat ketimbang tidak sama sekali.

Baca juga Konsep Jodoh dalam Islam: 3 Hal yang Sering Disalahpahami

Penulis

Redaksi