Surat untuk Kakakku yang Memutuskan Bunuh Diri

lead image

Mengapa kamu melakukannya? Kamu tidak pantas pergi dari dunia ini dengan cara seperti itu. Bayangan bagaimana kamu melakukannya membuatku putus asa. Dan marah.

Halo, Kak

Mengapa kamu melakukannya?

Aku terus menebak apa alasanmu bunuh diri, menebak peristiwa apa yang membuatmu memutuskan bahwa hidup cukup di sini. Pertanyaan itu selamanya tak akan terjawab. Aku bahkan tak bisa bertanya kepadamu ketika kamu datang di mimpiku.

Sudah 24 tahun sejak kamu pergi dan kamu masih datang di mimpiku. Ketika aku terus bertambah tua dalam mimpiku, kamu masih saja di usia yang sama seperti saat kamu tiada. Kamu selalu berumur 17 tahun, memakai pakaian putih dengan rambut gaya cowok '90-anmu itu. Itu model rambut terakhirmu. Di salah satu mimpi, kamu bahkan memakai sepatu roda.

Tapi, dalam mimpiku kamu tak pernah tersenyum, meskipun kamu juga tak tampak sedih. Kamu cuma ada di situ, lembut dan cantik. Dan kamu tak pernah bicara.

Itulah masalah kita: kamu tidak pernah menyampaikan permasalahan-permasalahanmu.

Apakah ada yang menyakitimu? Apakah kami, keluargamu, yang menyakitimu? Mengapa kamu tidak mempercayai kami untuk membantumu?

Kau pasti merasa putus asa yang tak terkira dan sangat sedih sampai-sampai caramu pergi harus menggunakan cairan kimia yang begitu keras, sampai-sampai bisa melelehkan plastik. Bukan cara yang menyenangkan, aku tahu itu, Kak. Begitu pelan dan menyakitkan, bukan hanya untukmu, tapi juga untuk orang-orang di sekitarmu yang putus harapan ketika menyaksikan hari-hari terakhirmu.

Kami tak pernah lagi membicarakan peristiwa itu sebelum kamu akhirnya meninggal. Juga tak membicarakannya setelah akhirnya kamu tak tertolong.

Kakak tertua kita masih tak bisa menerima kepergianmu (ia bahkan tak mampu membaca tulisan pertamaku tentangmu yang kutulis beberapa tahun lalu). Ia hanya pernah mmenyinggung beberapa kali tentang peristiwa yang membuatmu meninggal. Bagaimana kau memuntahkan banyak darah. Bagaimana perawat UGD memberitahunya bahwa cairan kimia sudah menghancurkan organ dalammu. Bagaimana kesedihannya ketika menerima telepon tengah malam dari rumah sakit mengabarkan bahwa kau akhirnya tiada.

Karena aku sedang berada di tempat yang jauh ketika kau meninggal, aku tak punya ingatan soal peristiwa itu. Namun, kisah tentangmu dari kakak membuat kenangan itu seakan-akan kualami sendiri.

Caramu pergi, kau tak layak menjalaninya. Bayangan peristiwa itu membuatku putus asa dan marah.

Kau membuatku sangat marah.

Karena seharusnya kau tak perlu melakukannya. Sangat menyakitkan mengingat bahwa kau tidak mau membagi kesakitan dan penderitaanmu dengan keluargamu sendiri.

Dan bukannya membagi, kau malah membuatku kehilangan seorang kakak, membuat mama kehilangan seorang anak, membuat anakku kehilangan seorang bibi. Kau membuat keluarga kita kehilangan orang yang kami sayangi, kehilangan kenangan di masa depan yang bisa kita buat bersama. Aku adikmu dan kau adalah panutanku. Ia harusnya melihtaku tumbuh dewasa, menjadi perempuan, istri, dan ibu yang hebat, sebagaimana yang selalu aku bayangkan. Seharusnya kamu begitu.

Selepas 24 tahun setelah kamu bunuh diri, kesedihan ini tak kunjung memudar. Sudah 24 tahun masa duka, sedih, marah, bersalah, terluka.

Aku tahu kau mencintai keluarga kita dan aku berharap, cintaku untukmu cukup untuk menambal cintamu pada diri sendiri yang nyatanya tak mampu membuatmu terus bertahan.

Kami bisa membantumu. Aku bisa membantumu. Andai saja kau mau bercerita tentang yang kau alami dan rasakan. Sekarang, kami hanya bisa berandai-andai.

Aku menulis surat ini karena aku masih digelantungi banyak pertanyaan. Dan aku akan selalu menebak-nebak jawabannya.

Aku menulis surat ini juga karena aku perlu memberitahumu betapa aku minta maaf. Maaf karena aku tidak menyadari tanda-tandamu, maaf karena keluargamu tidak tahu bahwa kau sedang sangat membutuhkan kami. Tidak tahu bahwa kau merasa sendiri tanpa siapa pun untuk bersandar.

Aku ingin kau memaafkan kami karena kami tak bisa memaafkan diri kamu sendiri. Tidak sekarang, tidak selamanya.

Begitu sulit bagi kami untuk menghadapi kenyataan bahwa kau bunuh diri. Begitu dalam luka yang kau tinggalkan tak akan mudah untuk sembuh.

Tapi, aku percaya, luka itu perlu ada di sana untuk kupahami. Ia akan membantu kami untuk menjadi dewasa.

Ia memandangi putri-putriku, keponakan-keponakanmu. Aku terkesima bagaimana mereka cepat sekali tumbuh. Di usia 5 dan 3 tahun, mereka telah punya pemikiran, perasaan, keistimewaan, dan cara menghadapi pengalaman dan hambatan dengan cara mereka sendiri.

Ketika mereka cukup besar, aku tak akan menyembunyikan kisah tentangmu. Kematianmu akan menjadi dialog jujur antara kami. Tak akan ada penghakiman, seberapa pun menyakitkannya pembicaraan tentang itu.

Aku menganggap kunjunganmu dalam mimpi-mimpiku, meskipun dalam kebisuan, adalah untuk mengingatkanku agar terus bertahan, adalah untuk meminta maaf kepadaku, atau sekadar menyampaikan bahwa kau begitu rindu, sebagaimana aku sangat rindu kepadamu.

Tak peduli ada banyak yang tak tersampaikan antara kita berdua, aku terus menyimpan ini dalam hatiku: kau adalah kakakku, sedarah dan seikatan denganku. Cinta, pengampunan, dan penerimaan yang kau minta dariku, aku berikan kepadamu. Tanpa perlu satu kata pun diucapkan.

Catatan dari penulis:

Bunuh diri adalah masalah kesehatan yang bisa ditangani. Orang yang memiliki keinginan bunuh diri biasanya merasa mereka tidak mampu menangani situasi yang membuat mereka tertekan. Walaupun kita tak bisa mengetahui apa yang seseorang rasakan, kita bisa mendeteksi tanda-tanda keinginan bunuh diri dan melakukan pencegahan.

Seseorang mungkin punya pikiran bunuh diri ketika ia...

  • membicarakan keinginan untuk mati,
  • asyik dengan tema kematian dan kekerasan,
  • mencari cara bunuh diri (misal: menyimpan obat tidur)
  • mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang seakan-akan saat itu adalah kali terakhir bertemu
  • membicarakan keputusasaannya dan situasi yang memerangkapnya
  • memperlihatkan kemarahan atau memikirkan cara balas dendam
  • memberi barang-barang kepada orang lain atau mengajak orang-orang bertemu tanpa alasan logis
  • mengubah kebiasaan harian, seperti makan atau tidur terlalu banyak/sedikit
  • menarik diri dari pergaulan atau merasa terisolasi
  • mengatakan bahwa dirinya adalah beban bagi orang lain
  • melakukan tindakan destruktif seperti menyetir secara ugal-ugalan atau mengonsumsi alkohol secara berlebih
  • memperlihatkan perubahan suasana hati yang ekstrem
  • memperlihatkan perubahan kepribadian

Jika kamu mendapati tanda-tanda itu pada orang yang kamu sayangi, tetap bersama orang tersebut. Singkirkan barang apa pun yang bisa digunakan untuk bunuh diri. Siapkan waktu untuk bicara dengannya. Mengobrol adalah aksi penting dalam proses penyembuhan sekaligus langkah pertama menghalangi usaha bunuh diri.

Kamu juga bisa menghubungi tenaga ahli di sini untuk memberi pertolongan:

Disadur dari artikel Carla Perlas di theAsianparent.com