Transkrip Pernyataan Viral Tengku Zulkarnain tentang Seks Suami-Istri

Transkrip Pernyataan Viral Tengku Zulkarnain tentang Seks Suami-Istri

Penolakan Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain atas RUU Penghapusan Kekerasan Seksual berbuah pernyataan kontroversial.

Ketika suami menginginkan hubungan seksual dan istri sedang tidak berhasrat, Wasekjen Dewan Pimpinan Pusat MUI Tengku Zulkarnain membagikan tipsnya: istri jangan menolak permintaan suami. “Istrinya diam saja, diam saja. Nggak sakit kok.” Pernyataan itu langsung memancing respons keras dari aktivis perempuan dan pendukung RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Pernyataan itu dikeluarkan Tengku Zulkarnain dalam gelar wicara di stasiun televisi iNews, 8 Maret 2019. Obrolan bertema pro-kontra Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) itu menjadi viral di media sosial karena pernyataan Tengku Zulkarnain dianggap membenarkan kekerasan seksual dalam rumah tangga.

Transkrip pernyataan Tengku Zulkarnain tentang seks suami istri yang viral
tengku zulkarnain ruu pks debat televisi inews viral istri seks suami hubungan suami istri

Tengku Zulkarnain (Sumber: CNN Indonesia)

Dalam acara televisi tersebut, Tengku Zulkarnain berdialog dengan aktivis buruh Jumisih dan Ketua Panitia Kerja RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) Marwan Dasopang via telepon video. Berikut petikan obrolan mereka dalam video yang kemudian viral di media sosial.

Tengku Zulkarnain: Aneh, kan, kalau suami dituduh memperkosa istrinya.

Marwan Dasopang: Pasalnya bukan memperkosa, Pak, pasalnya kekerasan.

Pembawa acara: Masuk ke KDRT, ya….

Tengku Zulkarnain: Ya, kekerasannya tu apa? Kalau cuma memaksakan hasratnya malam itu, kekerasannya di mana? Apa melukai? Kalau cuma merasa terhina, misalnya….

Pembawa acara: Mungkin kita bisa meminta pendapat Mbak Jum selaku penggiat di lapangan, apa saja fakta-fakta yang mungkin bisa diceritakan, contohnya.

Jumisih: misalnya begini, ada masalah antara suami istri, ya kemudian pada saat pulang ke rumah malam-malam atau dalam situasi istri capek setelah pulang bekerja dan tidak ingin melakukan hubungan seksual, kemudian suami memaksa, itu memang kategorinya pemaksaan.

Tengku Zulkarnain: Nah, ini nggak bisa. Kami nggak nerima. Sampai kiamat, nggak nerima.

Jumisih: Nah, itu yang kita berbeda memang. Tetapi, kita tidak bisa memaksakan kehendak. kan bisa mencari waktu—

Tengku Zulkarnain: Terus (suami) dipenjara gitu?

Jumisih: —entah besok, entah lusa.

Tengku Zulkarnain: Nggak bisa. kalau hasrat sudah mau, ya mesti.

Jumisih: Ya, tidak bisa seperti itu!

Tengku Zulkarnain: Istrinya tidur aja (sembari suami melakukan hubungan seksual), diam aja, nggak sakit kok.

Jumisih: Itu namanya memaksakan kehendak.

Tengku Zulkarnain: Makanya kami menolak undang-undang seperti itu

Jumisih: Itu kami tidak setuju seperti itu, itu memang kategorinya kekerasan. jadi memang nggak boleh hubungan seksual dipaksakan.

Tengku Zulkarnain: Akan ada banyak laki-laki, suami, dipenjara gara-gara (UU Penghapusan Kekerasan Seksual) itu.

Jumisih: Ya, suami harus menghargai situasinya istrinya sedang apa—

Tengku Zulkarnain: Ya, daripada dia berzina.

Jumisih:—sedang capekkah, sedang tidak mood-kah. bahkan sedang tidak mood pun tidak boleh dipaksakan.

Tengku Zulkarnain: Nah, itu bahayanya undang-undang ini. Masak nggak mood. Masak seks harus mood suami istri.

Jumisih: Lho, iya!

Tengku Zulkarnain: Lha, kami aja suami kadang-kadang nggak mood, istri mau, terpaksa dikasih juga.

Jumisih: Nggak juga. Harus sama-sama rela.

Tengku Zulkarnain: Nggak ada. Tidak ada dalam Islam sama-sama mood itu dalam agama nggak ada. Dan Pancasila itu… Undang-Undang Dasar menjamin warga negara untuk menjalankan agamanya. Dalam agama, nggak ada syarat hubungan suami istri itu harus sama-sama mood. Itu nggak ada. Mbak orang Islam apa nggak?

Jumisih: Saya Islam. Tapi kita harus sama-sama rela, baik suami maupun istri.

Tengku Zulkarnain: Kalau Islam ya ikut Islam, jangan bikin hukum sendiri.

Video dialog tersebut kemudian menjadi viral dan ditanggapi aktivis perempuan dan selebritas media sosial. Aktivis perempuan dan Islam Kalis Mardiasih bahkan sampai menulis catatan panjang di Facebook-nya.

Johnny Depp Mengaku Alami KDRT selama Menikah dengan Amber Heard

Dialog ini adalah contoh yang baik untuk menggambarkan bagaimana maskulinitas yang keras kepala itu. Pertama, perempuan berusaha menjelaskan bahwa ia perlu waktu yang tepat, bahkan perlu mood, akan tetapi dijawab si laki-laki, perempuan tidak perlu waktu bahkan tidak perlu mood, asal tiduran saja nggak usah bergerak nggak akan sakit, katanya. Ditambah pakai kalimat andalan, “daripada suaminya berzina?” Ya Allah, semudah itu gara-gara ditolak semalam aja pikirannya langsung cari yang lain wkwkwkwk. Padahal istrinya seharian juga bekerja/lelah sendirian mengasuh anak di rumah. 😊😊

Kedua, si Ibu jelas memakai jilbab, masih ditanya, “anda Muslim tidak?”. Ini teknik untuk mensubordinasi lawan bicara. Lalu, ia katakan, tidak ada pola persetujuan/kesepakatan perempuan-laki-laki dalam Islam untuk berhubungan seksual. Ia mau bilang bahwa yang ada adalah kehendak laki-laki semata. Kalau dalam hubungan seksual saja pemahamannya begitu, bisa dibayangkan bagaimana pola pengambilan keputusan atau hal-hal lain dalam rumah tangganya.

Dulu, saya juga sangat percaya pola pemikiran seperti itu. Saya ingat sebuah materi yang selalu diulang-ulang oleh guru mengaji, jika laki-laki harus jadi pemimpin yang tidak zalim, hakim yang adil, maka perempuan bisa masuk surga tanpa hisab dengan mudah, hanya dengan menjadi istri yang melayani suami dengan sebaik-baiknya. Materi yang terus diulang-ulang itu membuat cita-cita saya hanya satu: lekas menikah agar bisa masuk surga tanpa hisab dengan mudah.

Belum lagi, hadist yang menyatakan bahwa istri akan dikutuki dari malam hingga subuh jika menolak ajakan suami. Kalau sudah begitu, saya selalu membayangkan Rasulullah Saw. Rasulullah yang dilempari tahi musuhnya saja tetap menolak bantuan Jibril yang akan membantunya membalik gunung, maka ia tak mungkin kehilangan kesabaran hanya karena istrinya meminta waktu.

Saya kemudian bertemu dengan para guru yang mengkaji Islam dengan semangat keadilan. Islam tidak hanya memberikan hak pengambilan keputusan kepada laki-laki, akan tetapi juga perempuan. Dalam hubungan rumah tangga, kesepakatan keduanya harus setara. Suami tidak boleh memaksakan kehendak apabila istri dalam keadaan lelah atau tidak ridho, sebaliknya Istri juga harus mengambil peran sebaik-baiknya dan tidak boleh memaksakan kehendaknya apabila suami tidak ridho. Ada banyak hadist seruan mempergauli Istri dengan baik, akan tetapi dalam aplikasinya, hadist-hadist tersebut tidak ditafsiri dengan semangat keadilan. 

Proses untuk melazimkan pandangan baru ini memang perlu waktu. Akan tetapi, saya sering berdialog dengan banyak laki-laki baru yang bersedia untuk melembutkan maskulinitasnya, secara umum mereka sepakat bahwa laki-laki yang baik adalah laki-laki yang tidak bangga dengan stigma pemaksaan/kekerasan.

Mengapa pemahaman hal baru ini penting? Agar tidak lebih banyak lagi terjadi peristiwa semacam ini https://www.suara.com/…/diduga-tolak-berhubungan-intim-pria…

#KeadilanGenderDalamIslam

Dokter Gia Pratama yang juga selebritas media sosial ikut turun gunung berkomentar dan memberi penjelasan dari sisi biologis.

Sesungguhnya membuat mood istri itu mudah.

Seperti yang Rasulullah S.A.W contohkan, dengan penuh kelembutan, senyum, dan kasih sayang.

Jadi tanpa perlu pemaksaan, dgn pujian tulus, sentuhan cinta, insyaAllah tdk akan ada istri yg mampu menolak.

Saya belajar anatomi itu bkn hnya utk pasien tp justru utk istri, saya tau titik2 mana yg enak utk dipijat atau diurut Klo dia lg lelah. Asam2 laktat yg membuat pegal otot lgs lebur berkeping2 dan Istri lgs seger lg. Begitu pula klo saya lg capek, istri tau apa yg hrs dilakukan.

Terakhir, komentar komedian tunggal Arie Kriting bikin saya sebagai perempuan meleleh membacanya.

Untuk calon istriku, saya berjanji tidak akan memperlakukanmu seperti apa yang dikatakan Tengku Zulkarnaen itu. Saya akan memperlakukanmu dengan hormat. Dan mencintaimu dengan santun. Karena saya percaya engkau adalah rahmat yang Allah percayakan jika kelak saya sudah siap.

Menurut Siaran Pers Catatan Tahunan 2019 Komnas Perempuan, di 2018 ada peningkatan aduan kasus perkosaan dalam perkawinan di Indonesia, yakni mencapai 195 kasus.

“Mayoritas kasus perkosaan dalam perkawinan dilaporkan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta P2TP2A (sebanyak 138 kasus), selebihnya dilaporkan ke organisasi masyarakat dan lembaga lainnya,” demikian bunyi siaran pers tersebut.

Menurut Komnas Perempuan, meningkatnya pelaporan kasus perkosaan dalam perkawinan ini mengindikasikan implementasi UU Penghapusan KDRT (UU P-KDRT) masih memiliki sejumlah persoalan, terutama pada bagian pencegahan kekerasan seksual dalam lingkup rumah tangga dan penanganan KDRT.

Meski UU P-KDRT telah 14 tahun diberlakukan, namun hanya 3% dari kasus KDRT yang dilaporkan ke lembaga layanan yang sampai ke pengadilan.

Selain itu, ada fakta menarik bahwa aduan ke instansi pemerintah tentang kekerasan seksual dalam relasi pacaran meningkat sejak 2018. Dari 2.073 kasus yang terpantau Komnas Perempuan, 1.750 kasus dilaporkan ke instansi pemerintah.

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) sudah dibuat drafnya sejak 2016. Hingga kini, draf RUU itu masih didiskusikan di DPR. Draf RUU PKS bisa dibaca di sini.

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!