Orang yang Tidak Ingin Punya Anak Menerima Penghakiman Masyarakat

Orang yang Tidak Ingin Punya Anak Menerima Penghakiman Masyarakat

Tidak ada tempat di masyarakat untuk orang yang tak mau beranak.

Amy Blackstone dan Therese Shechter menulis artikel menarik tentang penghinaan yang diterima orang-orang yang memutuskan tidak ingin punya anak berjudul The Outrage Against Childfree Women Is Real — And Needs To Stop. Artikel ini adalah versi Indonesia tulisan tersebut.

Aku Tidak Ingin Punya Anak, dan Itu Membuat Orang Lain Marah

tidak ingin punya anak

Ketika perempuan berusia 26 tahun bernama Rose (bukan nama sebenarnya) itu mengatakan bahwa ia tidak ingin punya anak, orang-orang menyebutnya sebagai jalang egois, pembenci anak-anak, berhati batu, dan tidak ada laki-laki yang akan mencintainya.

Penelitian baru-baru ini oleh psikolog Leslie Ashburn-Nardo membenarkan bahwa orang yang tidak ingin punya anak seperti Rose paham risiko yang mereka hadapi. Keputusan mereka untuk tak beranak itu akan mengundang penghakiman moral dari lingkungan.

Sebab, sudah menjadi kesepakatan umum bahwa orang yang memilih tidak melanjutkan keturunan akan dicap berhati dingin, mementingkan diri sendiri, dan menyedihkan. Penelitian ini menjadi penelitian pertama yang menunjukkan, berdasarkan jawaban orang-orang yang masih ingin berketurunan, bahwa punya anak adalah tugas moral manusia.

Akibat dari cara pandang ini amat nyata dan dialami betul oleh orang-orang.

Kami menyurvei 4 ribu orang yang menyebut diri mereka sebagai orang yang tidak ingin punya anak. Berbagai pengakuan direkam dalam rangka pembuatan film dokumenter karya Therese Schecter berjudul My So-Called Selfish Life.

Dari survei tersebut tercatat, 75% dari kesemuanya pernah menghadapi kritikan maupun penghakiman moral dalam bentuk lain dari keluarga, teman, rekan kerja, dan bahkan kenalan baru. Penghakiman itu terjadi hanya karena mereka jujur mengatakan, mereka tidak ingin punya anak.

Sebagai dikatakan Rose, "Aku dinasihati bahwa adalah perintah agama bagi seorang perempuan untuk 'berbuah dan menggandakan diri,' dan menikah (yang belum kulakukan) dan bahwa keinginan tidak punya anak adalah dosa dan penistaan kepada Tuhan."

BACA JUGAPerempuan Ini Bagikan Pengalaman Pertama Oral Seks: Bikin Ketagihan!

Responden lain bernama Emily yang berumur 34 tahun mengatakan, "Di luar tekanan untuk beranak karena sesat pikir soal 'tugas wanita,' juga ada stigma di kalangan kulit hitam ketika ada seseorang yang tidak mau beranak. Kamu akan dianggap tidak normal. Menjadi kulit hitam yang bangga pada warisan nenek moyang berarti harus terus meneruskan garis keturunan."

Alana, 40 tahun, mengatakan, "Aku sampai harus terang-terangan meminta keluargaku agar lebih tenang. Mereka menangisi dan sangat berduka atas 'rahim mandulku'."

Sebagian lain bahkan dikucilkan sepenuhnya dari keluarga sebagai akibat keputusan mereka. Caroline, 36 tahun, mengatakan bahwa keluarga suaminya sama sekali tidak mau bicara dengannya dan "memperlakukan dirinya dan suaminya seperti orang aneh." Sedangkan Jane, 45 tahun, seniman, bilang, "Ibu mertuaku bilang mending aku mati aja. Keluarga teman-temannya mempermalukan aku dan ngatain aku ini nggak berharga lagi karena aku nggak punya anak."

Penghakiman tidak hanya datang dari lingkaran keluarga dan teman. Orang yang tidak mau punya anak bahkan menerima pertanyaan dan kritikan di kantor pula.

Misalnya yang dialami Kelly, dokter anak berumur 40 tahun. "Orang jadi meragukan keahlianku karena aku nggak punya anak." Manajernya memberi penilaian tertulis atas pekerjaannya dengan menekankan bahwa Kelly sangat disukai oleh keluarga-keluarga yang datang dan secara mengejutkan, bisa bekerja sama dengan baik dengan keluarga-keluarga itu meskipun ia sendiri tidak punya anak.

Stephanie, pekerja IT berusia 31 tahun, mengatakan bahwa manajernya "menghafal teman-temannya yang sudah punya anak" dan "sangat meremehkan" dirinya karena ia tidak punya anak. Padahal, pekerjaannya tidak berhubungan dengan pengasuhan anak.

Sementara Lianne, 29 tahun, mengatakan bahwa bosnya saat ini "menyuruhnya untuk bermain dengan bayi orang lain agar aku kembali jadi 'manusia'." Lianne adalah seorang pelatih yoga.

Memperlakukan karyawan secara berbeda karena sesuatu yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan pekerjaan adalah konsekuensi nyata yang mereka hadapi, yang pengaruhnya sampai pada iklim kantor hingga besaran pendapatan. Ada kasus orang didiskriminasi karena nggak mau punya anak; ada yang didiskriminasi justru karena punya anak. Kedua-duanya memberi pengaruh negatif kepada perempuan.

Di kalangan orang tua, laki-laki yang punya anak mendapat konsekuensi gaji mereka dinaikkan. Sedanghkan perempuan yang punya anak malah menghadapi pemecatan atau penalti.

Rasa permusuhan itu juga datang dari orang tak dikenal. Seorang narasumber mengatakan, ia diancam akan diperkosa setelah mengaku tidak mau punya anak di sebuah forum online.

Tidak semua orang bisa menerima atau memahami pilihan-pilihan yang kita buat. Tapi bagi Amanda, seorang pakar strategi media berusia 30-an, "Tidak menakutkan kalau cuma satu komentar. Tapi, nyatanya ada begitu banyak komentar."

Syukurlah, ada juga yang menerima pengalaman positif. Seorang pria bilang, ibunya sama sekali tidak masalah dengan keputusannya. "Sebagian besar keluargaku sangat maklum dan mendukung."

Bahkan Sarah, berusia 30-an akhir, menerima dukungan dari orang yang sama sekali asing. "Suatu kali seorang ibu di lift bertanya apa aku akan punya anak dan aku bilang tidak. Ia lalu mengatakan, 'Perempuan pintar! Anak-anakku cuma memberiku neraka!"

Mencari dukungan secara online juga jauh lebih mudah saat ini. Kini ada banyak grup di media sosial yang memberi dukungan untuk orang yang memilih tidak punya anak. Di Amerika Serikat, sebuah seminar internasional dua tahunan bernama NotMom Summit diadakan di Cleveland, 2017 lalu.

Gerakan untuk menghilangkan stigmatisasi atas orang yang tidak hendak beranak terus dilakukan. Temuan Profesor Ashburn-Nardo mengungkap, betapa terkaitnya budaya, politik, dengan proyek ideologi yang prokelahiran. Meski penelitian ini tidak mengejutkan buat orang yang memutuskan tidak punya anak, mungkin hasilnya akan mengilhami orang yang sebelumnya menghakimi pilihan tersebut, untuk berpikir lebih mendalam sebelum melontarkan cercaan karena efeknya ternyata sangat besar.

***

Amy Blackstone adalah dosen sosiologi di Universitas Maine. Karya akademisnya banyak tersebar di media, seperti Ms., Broadly, The New Yorker, CNN, TIME, dan lainnya. Ia dan suaminya, Lance, mengelola blog bernama we're {not} having a baby!.

Therese Shechter membuat karya-karya tentang humor, cerita pribadi, dan aktivisme akar rumput. Baru-baru ini ia menyutradarai dokumenter berjudul How To Lose Your Virginity. Kini ia tengah mensyuting film tentang perempuan yang tidak ingin punya anak berjudul My So-Called Selfish Life. Ia memiliki grup podcast bernama Downton Gabby.

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Redaksi