Terapis Go-Massage Diduga Diperkosa Pelanggan

Terapis Go-Massage Diduga Diperkosa PelangganTerapis Go-Massage Diduga Diperkosa Pelanggan

LBH APIK meminta Go-Jek untuk tidak memediasi kasus ini.

Seorang tukang pijat yang bekerja untuk layanan Go-Massage (salah satu layanan di aplikasi Go-Jek) diduga diperkosa seorang pelanggannya di Bandung, Jawa Barat. Kasus pemerkosaan terapis Go-Massage ini menimbulkan pertanyaan tentang komitmen Go-Jek terhadap keamanan partnernya ketika si partner tengah melakukan pekerjaannya.

Terapis Go-Massage diduga diperkosa pemesannya

terapis go-massage tukang pijat diperkosa konsumen gojek

Ilustrasi terapis Go-Massage. (Sumber: Tech In Asia Indonesia)

Menurut laporan, pada 5 Maret 2019, tukang pijat atau biasa disebut terapis Go-Massage ini, seorang perempuan berinisial L, diduga diperkosa oleh pemesannya. Pemesannya adalah seorang lelaki muda yang tinggal di Jalan Geger Kalong Hilir Nomor 185A, Kecamatan Sukasari, Bandung.

Peristiwa itu terjadi setelah terduga korban selesai memijat terduga pelaku. Terduga pelaku membalikkan badan korban dan memaksa hubungan seksual. Terduga pelaku juga membekap mulut korban. Karena kalah tenaga, perlawanan korban sia-sia.

Setelah pemerkosaan itu terjadi, L langsung melaporkan kasusnya ke Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Bandung dan melakukan pemeriksaan forensik dengan polisi keesokan harinya.

BACA JUGA: Driver Grab Car Lecehkan Penumpang, Korban Dicium dan Diancam Dibunuh

L memohon agar pemerkosanya dihukum dengan Pasal 286 KUHP dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara. Polrestabes Bandung masih mencari saksi kasus ini dalam rangka penyelidikan.

Sayangnya, kemungkinan adanya saksi dalam kasus ini sangat kecil. Sebab, tukang pijat atau terapis Go-Massage bekerja di ruangan tertutup di kediaman konsumen mereka. Perihal ini, Komisi Nasional Perlindungan Perempuan (Komnas Perempuan) mengkritik Go-Jek karena gagal menyediakan perlindungan bagi partner terapis mereka saat bekerja.

“Sejak awal, Gojek [semestinya] bisa membayangkan kalau pekerjaan memijat itu pekerjaan yang sangat privat,” kata Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin kepada Tirto, Minggu, 10 Maret 2019.

Mariana menambahkan, Go-Jek sebaiknya mengawasi partner terapis mereka mengingat adanya risiko pelecehan dan kekerasan seksual di ruang tertutup.

“Kalau di hotel, kan, tamu yang datang, jadi keamanannya bisa diawasi,” kata Mariana, masih dikutip dari Tirto.

Dayu Dara, Head of Go-Life, departemen di Go-Jek yang menyediakan layanan Go-Massage mengatakan bahwa pihaknya akan memberi bantuan hukum dan pengobatan fisik dan psikologis kepada terduga korban.

“Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa proses hukum berjalan sesuai prosedur dan adil,” kata Dayu lewat keterangan tertulis.

Menurut Dayu, korban L adalah sosok tulang punggung keluarga. Go-Jek berjanji akan melindungi identitas korban

Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) mengingatkan Go-Jek untuk menangani serius kasus ini dan jangan sampai mengarahkan agar kasus ini diselesaikan lewat mediasi di luar persidangan. Sebab, preseden serupa pernah terjadi di Grab, kompetitor Go-Jek. Grab memediasi perdamaian antara konsumen dan seorang driver yang terbukti memaksa mencium penumpangnya.

Sumber: Coconuts Jakarta, Tribunnews, Tirto

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram HerStyleAsia Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

img
Penulis

Redaksi